Tulisan
ini tentang Bantuan Sosial Tunai yang sekarang sedang dalam pencairan gelombang
kedua yang rasanya belum atau tidak beres. Lebih spesifik lagi ini tentang
tetangga sebelah rumah yang nasibnya sudah sejak lama jauh berbeda dan hingga
kini tetap demikian karena tatanan sosial kita yang kacau. Jadi koar-koar di
media sosial belakangan ini soal tidak adilnya pembagian Bansos itu pada
kenyataannya bukan sekedar ekspresi kaum pendengki. Walaupun saya yakin mereka
yang mengalami ketidakadilan lebih banyak yang diam alias pasrah.
Tampilkan postingan dengan label WARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WARGA. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Juni 2020
Kamis, 27 Juni 2019
STOP GADUH POLITIK
Pada akhirnya sesuatu yang telah saya
yakini bahwa Mahkamah Konstitusi (MK)
akan menolak semua tuntutan pihak BPN (Badan Pemenangan Nasional) malam ini
benar terbukti. Tuduhan-tuduhan kecurangan yang selama ini gencar disuarakan
begitu jelas mengada-ada. Terlalu jelas sikap mereka yang tak mau mengakui
kekalahan itu, sikap mereka dalam berpolitik tak beda dengan sikap sehari-hari orang-orang
kebanyakan di negeri ini, takut kalah tapi tak peduli pada cara terbaik
bagaimana mendapat kemenangan.
Kamis, 11 April 2019
Audrey atau Bukan Audrey
Ramai-ramai orang mendukung Audrey gadis yang beberapa waktu lalu jadi
korban penganiayaan di kalangan ABG (Anak Bapak-ibu Gebleg) Kalimantan itu.
Sampai banyak artis sok peduli dan kini kasusnya bahkan melebar ke pemilu
dimana salah seorang pelaku konon anak seorang calon anggota legislatif. Entah
seperti apa kejadian yang sebenarnya, yang jelas kini ada keterangan yang
berbeda dari kabar liar di media sosial. Sebelumnya dikatakan pengeroyok
berjumlah belasan dan alat kelamin korban dirusak, tapi hasil otopsi menyangkal
adanya kerusakan bahkan badan korban pun bersih dari luka dan lebam.
Selasa, 05 Maret 2019
Nakoba, Teler, Terangkap Deh
Lagi seorang selebritas dari dunia
politik menggemparkan media massa, seorang politikus dari Partai Demokrat yang
beberapa waktu terakhir namanya jadi berita di koran-koran nasional dan jadi
gunjingan di medsos, Andi Arief tertangkap atau ditangkap karena masalah
narkoba. Mengejutkan walau tidak mengagetkan (entah apa maksudnya ini). Saya
terkejut saat pertama membaca beritanya, tapi sejenak saya sudah menganggap ini
kasus yang bisa menimpa siapa saja kapan saja. Dia bukan yang pertama dari
kalangannya yang terjerat masalah seperti ini.
Senin, 29 Oktober 2018
BANSER MULIAKAN KALIMAT TAUHID ?
Entah akan sampai di mana panjangnya
buntut aksi bakar bendera di Hari Santri Nasional lalu yang dilakukan oleh Banser.
Semoga ada hal baru yang bisa mengalihkan perhatian mereka, karena aksi bakar
bendera itu (walau disesalkan karena menimbulkan kegaduhan) bukanlah sesuatu
yang benar-benar luar biasa. Bendera yang disebut sebagai Bendera Nabi yang di
sana ada kalimat tauhidnya, nyatanya cuma kain bendera biasa yang tiap-tiap
orang bisa punya gaya berbeda saat memegangnya, begitu pula sikap melecehkan
dan memuliakannya. Dan pada kasus ini, yang dilakukan Banser bisa jadi niatnya
mulia.
Selasa, 16 Oktober 2018
JANGAN UNDANG BENCANA, BRO!
Sembrono dan tidak peduli lingkungan.
Saya kira sebutan itu tidak berlebihan untuk prilaku warga di musim kemarau ini
yang membakar sampah asal-asalan. Sselain
membuang sampah ke sungai, belakangan saya perhatikan warga juga membakari
dedaunan dan rumput kering di sembarang tempat. Saya juga sering membakar
sampah di pekarangan rumah, tapi dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibakar. Juga
tak dibiarkan begitu saja, karena bisa ssaja ada api diterbangkan angin dan
membakar rumah.
Jumat, 05 Oktober 2018
OKTOBER TANGGAL MUDA
Apakah kita bangsa penjarah? Jika
pertanyaan itu diajukan pada sebanyak mungkin orang Indonesia sangat mungkin
jawabannya mayoritas mengatakan tidak atau bukan. Kita adalah bangsa yang sopan
santun, suka tolong menolong, senang bergotong royong, beragama dan masih
banyak lagi istilah yang membanggakan yang biasa kita dengar semenjak kecil.
Saya masih ingat, pada masa sekolah saat pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila)
siapapun gurunya selalu memuji keluhuran bangsa ini, yang biasanya diikuti
dengan menjelek-jelekkan bangsa lain.
Sayangnya perlahan tapi pasti, segala
yang pernah saya dengar dari guru-guru PMP itu mulai terkikis seiring
bertambahnya usia, banyaknya bacaan dan bertemu rupa-rupa manusia. Hingga
kemudian saya merantau dan ikut mengalami masa-masa sulit negeri ini yaitu saat
dilanda krisis setelah tumbangnya Orde Baru, rasanya hampir habis rasa percaya saya
pada guru PMP. Dan kini sedang gamblang kita saksikan, di mana baru saja tertimpa bencana, suasana
masih berduka, seakan tak ada rasa sungkan sama sekali, orang beramai-ramai mengambil apa saja barang milik orang lain
yang juga sedang sama tertimpa bencana.
Memang ada alasan sebagai pembenar
pada setiap laku yang dianggap tidak benar, tapi namanya pembenar selalu tidak
pasti benar. Yang jadi alasan mereka para penjarah BBM di SPBU misalnya,
katanya kendaraan mereka butuh bahan bakar untuk mencari anggota keluarga
mereka yang hilang haha. Lalu mereka yang menjarah di pusat perbelanjaan, untuk
apa segala macam barang elektronik—ada sebuah foto menampilkan seseorang
memboceng motor memangku monitor televisi selebar lemari—diangkut dalam situasi
sulit tanpa tempat tinggal dan listrik. Mungkinkah para penjarah itu datang dari
tempat yang jauh—bukan warga yang sedang tertimpa musibah?
Dalam situasi yang mestinya manusia
dekat kepada Tuhan saja kebejatan tak bisa dibendung, apalagi pada keadaan yang
memungkinkan manusia sombong. Penjarahan demi penjarahan begitu sering kita
saksikan kini dan sangat mungkin itu semua bukan kebiasaan baru, Tak aneh jika
negeri ini pejabatnya tukang korupsi, pedagangnya tukang ngapusi, polisinya berteman dengan pencuri, jangan-jangan segala
macam puja-puji untuk diri sendiri itu cuma sublimasi. Agama yang jadi
kebanggaan, pada akhirnya kini pun hanya sebatas pakaian dan ceramah basa-basi.
Baru saja negeri ini memperingati
Hari Kesaktian Pancasila, dasar negara kita yang dibanggakan itu apanya yang
sakti? Sebatas Pancasila tak bisa diubah oleh para pembencinya dan konon
gagal diganti dengan Idiologi Komunis? Pada
hari ketika kesaktiannya diperingati, bangsanya justru pamer sikap ketidak
bertuhanan, ketidakadilan, dan menodai persatuan di layar televisi lalu
disaksikan oleh dunia, topeng apa lagi yang akan kita gunakan untuk menutupi
wajah bopeng ini? Kita menolak komunis karena katanya idiologi ini menghalalkan
segala cara untuk meraih yang diinginkan, lalu apa yang kini sama-sama kita
saksikan?
Rasanya, jika masih mungkin kita
memperbaiki diri, yang pertama harus dilakukan adalah mengakui sejujur-jujurnya
siapa sebenarnya diri ini. Bersama-sama duduk menangisi dosa dan segala
kepalsuan yang selama ini menjadi laku harian kita, bertobat dan kalau masih
yakin dengan Kesaktian Pancasila, bersama-sama kita memahami kandungannya dan
bersama-sama pula mengamalkannnya.
Hmmm… enaknya nggomong sendiri di tanggal muda.
Senin, 24 September 2018
HARINGGA KORBAN KE BERAPA?
Kembali ramai orang mengutuk,
menyesalkan, berduka cita dan macam-macam di media-media massa hari ini di negeri ini. Semua karena
Haringga Sirla, suporter Persija (Jak Mania-) yang tewas dikeroyok pendukung Persib di Gelora
Bandung Lautan Api menjelang pertandingan Persib vs Persija kemarin. Peristiwa
brutal dan segala yang mengikutinya tentu saja bukan hal baru, sudah sering dan
korban tewas dalam kondisi mengerikan sudah panjang daftarnya. Adakah yang luar
biasa di sini?
Sabtu, 25 Agustus 2018
TOA MASJID TIDAK SALAH, KITA YANG SALAH
Pasti
ini bukan yang terakhir, pasti akan ada lagi orang yang mempermasalahkannya. Jumlah
masjid terus bertambah, jumlah non muslim pun juga bertambah. Ini bisa saja
dianggap soal sederhana, tapi sangat mungkin menjadi rumit yang kemudian
melibatkan pihak-pihak yang sebenarnya tak perlu terlibat. Toa masjid, sejak kapankah benda satu ini ada
di dunia? Lalu sejak kapan mengganggu telinga anda?
Sabtu, 18 Agustus 2018
MERDEKANYA KIDS JAMAN NOW
Sepuluh tahun lalu saya pernah
mendengar dua orang tua ngorol, yang dibahasnya tentang anak-anak. Dikatakan oleh
yang berbicara bahwa anak-anak sekarang tak punya sopan santun, tidak hormat
pada orang tua, bicaranya kasar dan macam-macam. Pada kesempatan lain ada
seorang aktivis muda yang berbicara dengan keras di forum diskusi, bahwa orang
tua zaman sekarang menurutnya tak layak dapat rasa hormat dari anaknya. Anak-anak
yang lahir belakangan bisa jadi hanya meniru dan orang tua yang merasa telah
bekerja untuk menghidupi pastinya ingin dihargai, tapi apa mau dikata kini
adalah eranya Kids Jaman Now.
Senin, 23 Juli 2018
ANAK INDONESIA, HAPE DAN MOTOR
Saya
sering mendengar orang bercerita tentang anak-anak mereka. Umumnya mereka
menunjukkan rasa senang atau bangga: ada yang bilang anaknya bisa jadi
penghilang rasa capek di badan ketika pulang kerja, ada pula yang membanggakan
anaknya yang karena bagus rupanya banyak orang menginginkannya. Anak-anak, apalagi
ketika mereka sesuai dengan harapan, wajar jika sampai membuat para orang tua
begitu gembira, mabuk oleh harapan indah hingga memberikan apa saja demi untuk
menyenangkannya. Anak memang harta yang sangat berharga.
Kamis, 05 Juli 2018
BUKAN SUSU KENTAL MANIS
“Susu
saya susu bendera.” Saya yakin masih banyak yang ingat dengan slogan iklan sebuah produk susu kemasan tekenal ini. Bunyi
yang enak didengar seenak produknya itu entah sejak kapan tidak beredar, saya
baru sadar belakangan setelah ramai di media soal produk susu kental manis yang
katanya bukan susu. Lalu sejak kapan pula susu kental manis bukan susu?
Selasa, 12 Juni 2018
SAHUR SAHUR... MANA THR-NYA?
Pastinya
tak cuma di sini di desa saya ada aksi membangunkan orang-orang pada dini hari
di bulan Romadlon. Di banyak negara yang komunitas muslimnya mayoritas hal semacam
itu lumrah. Saya waktu kecil pun sudah melakukannya, keliling kampung membawa
apa saja yang bisa jadi tetabuhan untuk mengingatkan orang pada sahur.
Entahlah, apakah aksi tombrang-tombreng
ini diperlukan atau mengganggu, sepertinya kini banyak yang mengeluhkannya.
Jumat, 01 Juni 2018
LUCUNYA PANCASILA
Mungkin
karena negeri ini tanahnya subur makmur gemah ripah loh jinawi tongkat dan kayunya
jadi tanaman (kata Koes Plus), maka orangnya secara umum santai dan senang
bercanda. Memang ada satu dua yang serius bahkan ada yang selalu pasang tampang
sangar, tapi yang begitu pun sering pula menimbulkan gelak tawa. Maka tidak
aneh acara televisi pun siang malam isinya lelucon dan banyolan.
Selasa, 01 Mei 2018
BURUH HARIAN DI HARI BURUH
Hari Buruh lagi
dan demonstrasi lagi. Akankah sampai kiamat akan begini? Semoga pada suatu saat
peringatan Hari Buruh Internasional tak lagi diisi dengan turun ke jalan. Para buruh pabrik
yang jauh-jauh datang ke Istana Merdeka itu untuk sekedar berkerumun bisa saja
memilih sesuatu yang lebih bermartabat, lebih menunjukkan kemandirian. Bagaimanapun
buruh kodratnya untuk disuruh-suruh, di luar jam kerja tetaplah manusia yang
hidup merdeka.
Selasa, 24 April 2018
KITA BUTUH BUKU, NEGARA HARUS PENUHI
Pernah
pada suatu hari ada seorang saudara yang kini berprofesi sebagai guru menelpon
saya yang saat itu sedang kuliah di Jakarta. Waktu itu saya sedang membaca buku
dan ketika dalam pembicaraan lewat telefon itu dia bertanya saya sedang
melakukan apa saat itu, sepontan saya menjawab
sedang membaca buku. Dan sepertinya dia sepontan membalas jawaban saya dengan
berkata: baca buku mau jadi apa? Mungkin
maksud dia bercanda waktu itu, tapi sempat membuat saya terkejut dan sampai
sekarang tetap teringat peristiwa itu.
Jumat, 20 April 2018
IBU KARTINI SEORANG PESOLEK ?
Besok
tanggal 21 April lagi dan Hari Kartini
lagi. Sudah puluhan kali peringatan Hari Kartini diadakan, mungkin sejak dirinya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964 dan entah sejak kapan saya
menyadari keberlangsungannya. Tentunya waktu saya kanak-kanak di sekolah dasar
peringatan ini sudah jadi tradisi, Cuma saya tidak benar-benar ingat pada waktu
itu, peringatan Hari Kartini memang seperti sekarang ini atau tidak?
Senin, 26 Maret 2018
SOAL MENARA MASJID SAJA RIBUT
Pembangunan menara
masjid Al Aqsha di Jayapura ditolak oleh sekelompok massa, adakah sesuatu yang
aneh? Di wilayah Indonesia yang penduduknya beragam, kasus semacam ini sudah
sering terjadi. Walaupun rasanya ini fenomena yang baru marak beberapa tahun
terakhir. Dugaan saya bahwa ini sesuatu yang baru karena di sekitar tempat
tinggal saya tak pernah ada kasus gereja diganggu atau orang-orang keturunan
Cina dimusuhi, justru pernah ada seorang pendatang di kampung saya beragama Nasrani
dibolehkan ikut tahlilan. Jadi kasus di
Papua ini hanya rangkaian dari rentetan kasus serupa yang pada beberapa tahun
terakhir sering jadi berita nasional.
Langganan:
Postingan (Atom)