Tampilkan postingan dengan label sosialita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosialita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2020

BANSOS CORONA MEMANG TIDAK ADIL


Tulisan ini tentang Bantuan Sosial Tunai yang sekarang sedang dalam pencairan gelombang kedua yang rasanya belum atau tidak beres. Lebih spesifik lagi ini tentang tetangga sebelah rumah yang nasibnya sudah sejak lama jauh berbeda dan hingga kini tetap demikian karena tatanan sosial kita yang kacau. Jadi koar-koar di media sosial belakangan ini soal tidak adilnya pembagian Bansos itu pada kenyataannya bukan sekedar ekspresi kaum pendengki. Walaupun saya yakin mereka yang mengalami ketidakadilan lebih banyak yang diam alias pasrah.

Kamis, 11 April 2019

Audrey atau Bukan Audrey


Ramai-ramai orang mendukung  Audrey gadis yang beberapa waktu lalu jadi korban penganiayaan di kalangan ABG (Anak Bapak-ibu Gebleg) Kalimantan itu. Sampai banyak artis sok peduli dan kini kasusnya bahkan melebar ke pemilu dimana salah seorang pelaku konon anak seorang calon anggota legislatif. Entah seperti apa kejadian yang sebenarnya, yang jelas kini ada keterangan yang berbeda dari kabar liar di media sosial. Sebelumnya dikatakan pengeroyok berjumlah belasan dan alat kelamin korban dirusak, tapi hasil otopsi menyangkal adanya kerusakan bahkan badan korban pun bersih dari luka dan lebam.

Selasa, 05 Maret 2019

Nakoba, Teler, Terangkap Deh


Lagi seorang selebritas dari dunia politik menggemparkan media massa, seorang politikus dari Partai Demokrat yang beberapa waktu terakhir namanya jadi berita di koran-koran nasional dan jadi gunjingan di medsos, Andi Arief tertangkap atau ditangkap karena masalah narkoba. Mengejutkan walau tidak mengagetkan (entah apa maksudnya ini). Saya terkejut saat pertama membaca beritanya, tapi sejenak saya sudah menganggap ini kasus yang bisa menimpa siapa saja kapan saja. Dia bukan yang pertama dari kalangannya yang terjerat masalah seperti ini.

Rabu, 19 Desember 2018

INI DIA PESTA DEMOKRASI


Bagi umumnya warga negara ini, yang disebut dengan Pesta Demokrasi mungkin belum jelas dirasakan. Namun sudah banyak ternyata, warga yang telah berpesta di alam demokrasi. Pesta dalam artian bersenang-senang. Ya, bicara pesta pastinya yang tergambar adalah kesenangan dan kemeriahan—ada banyak makanan yang bebas dinikmati, dan hal lainnya yang bisa membuat orang merasa senang atau gembira. Di sini saya tidak bicara mereka tukang bikin kaos, sepanduk, baliho dan atribut-atribut lain yang sangat mungkin banyak yang sedang kebanjiran order.

Senin, 29 Oktober 2018

BANSER MULIAKAN KALIMAT TAUHID ?


Entah akan sampai di mana panjangnya buntut aksi bakar bendera di Hari Santri Nasional lalu yang dilakukan oleh Banser. Semoga ada hal baru yang bisa mengalihkan perhatian mereka, karena aksi bakar bendera itu (walau disesalkan karena menimbulkan kegaduhan) bukanlah sesuatu yang benar-benar luar biasa. Bendera yang disebut sebagai Bendera Nabi yang di sana ada kalimat tauhidnya, nyatanya cuma kain bendera biasa yang tiap-tiap orang bisa punya gaya berbeda saat memegangnya, begitu pula sikap melecehkan dan memuliakannya. Dan pada kasus ini, yang dilakukan Banser bisa jadi niatnya mulia.

Jumat, 05 Oktober 2018

OKTOBER TANGGAL MUDA


Apakah kita bangsa penjarah? Jika pertanyaan itu diajukan pada sebanyak mungkin orang Indonesia sangat mungkin jawabannya mayoritas mengatakan tidak atau bukan. Kita adalah bangsa yang sopan santun, suka tolong menolong, senang bergotong royong, beragama dan masih banyak lagi istilah yang membanggakan yang biasa kita dengar semenjak kecil. Saya masih ingat, pada masa sekolah saat pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) siapapun gurunya selalu memuji keluhuran bangsa ini, yang biasanya diikuti dengan menjelek-jelekkan bangsa lain.

Sayangnya perlahan tapi pasti, segala yang pernah saya dengar dari guru-guru PMP itu mulai terkikis seiring bertambahnya usia, banyaknya bacaan dan bertemu rupa-rupa manusia. Hingga kemudian saya merantau dan ikut mengalami masa-masa sulit negeri ini yaitu saat dilanda krisis setelah tumbangnya Orde Baru, rasanya hampir habis rasa percaya saya pada guru PMP. Dan kini sedang gamblang kita saksikan,  di mana baru saja tertimpa bencana, suasana masih berduka, seakan tak ada rasa sungkan sama sekali, orang beramai-ramai  mengambil apa saja barang milik orang lain yang juga sedang sama tertimpa bencana.

Memang ada alasan sebagai pembenar pada setiap laku yang dianggap tidak benar, tapi namanya pembenar selalu tidak pasti benar. Yang jadi alasan mereka para penjarah BBM di SPBU misalnya, katanya kendaraan mereka butuh bahan bakar untuk mencari anggota keluarga mereka yang hilang haha. Lalu mereka yang menjarah di pusat perbelanjaan, untuk apa segala macam barang elektronik—ada sebuah foto menampilkan seseorang memboceng motor memangku monitor televisi selebar lemari—diangkut dalam situasi sulit tanpa tempat tinggal dan listrik. Mungkinkah para penjarah itu datang dari tempat yang jauh—bukan warga yang sedang tertimpa musibah?

Dalam situasi yang mestinya manusia dekat kepada Tuhan saja kebejatan tak bisa dibendung, apalagi pada keadaan yang memungkinkan manusia sombong. Penjarahan demi penjarahan begitu sering kita saksikan kini dan sangat mungkin itu semua bukan kebiasaan baru, Tak aneh jika negeri ini pejabatnya tukang korupsi, pedagangnya tukang ngapusi, polisinya berteman dengan pencuri, jangan-jangan segala macam puja-puji untuk diri sendiri itu cuma sublimasi. Agama yang jadi kebanggaan, pada akhirnya kini pun hanya sebatas pakaian dan ceramah basa-basi.

Baru saja negeri ini memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dasar negara kita yang dibanggakan itu apanya yang sakti? Sebatas Pancasila tak bisa diubah oleh para pembencinya dan konon gagal  diganti dengan Idiologi Komunis? Pada hari ketika kesaktiannya diperingati, bangsanya justru pamer sikap ketidak bertuhanan, ketidakadilan, dan menodai persatuan di layar televisi lalu disaksikan oleh dunia, topeng apa lagi yang akan kita gunakan untuk menutupi wajah bopeng ini? Kita menolak komunis karena katanya idiologi ini menghalalkan segala cara untuk meraih yang diinginkan, lalu apa yang kini sama-sama kita saksikan?

Rasanya, jika masih mungkin kita memperbaiki diri, yang pertama harus dilakukan adalah mengakui sejujur-jujurnya siapa sebenarnya diri ini. Bersama-sama duduk menangisi dosa dan segala kepalsuan yang selama ini menjadi laku harian kita, bertobat dan kalau masih yakin dengan Kesaktian Pancasila, bersama-sama kita memahami kandungannya dan bersama-sama pula mengamalkannnya.

Hmmm… enaknya nggomong sendiri di tanggal muda.



Senin, 24 September 2018

HARINGGA KORBAN KE BERAPA?


Kembali ramai orang mengutuk, menyesalkan, berduka cita dan macam-macam di media-media massa hari ini di negeri ini. Semua karena Haringga Sirla, suporter Persija (Jak Mania-) yang tewas dikeroyok pendukung Persib di Gelora Bandung Lautan Api menjelang pertandingan Persib vs Persija kemarin. Peristiwa brutal dan segala yang mengikutinya tentu saja bukan hal baru, sudah sering dan korban tewas dalam kondisi mengerikan sudah panjang daftarnya. Adakah yang luar biasa di sini?

Kamis, 20 September 2018

PEMILU LAGI.... AH !


Pasangan Capres-cawapres dan Daftar Calon Tetap (DCT) Calon Anggota Legislatif atau Caleg DPR RI dan DPD RI telah ditetapkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan apakah kita sudah siap ikut pemilu lagi? Siap tidak siap, kita sebagai rakyat jika diajukan pertanyaan jawabanyya pasti siap, memang apa susahnya datang ke Tempat Pemungutan Suara ( TPS) dan menusuk-nusuk kertas suara, ya toh? Artinya, silahkan bersaing bagi mereka yang punya banyak uang untuk berebut kursi dan kedudukan, asal jangan lupa dengan rakyat kebanyakan yang setiap hari peras keringat banting tulang demi bertahan hidup, bagi-bagilah walau sekedar untuk beli pulsa.

Sabtu, 25 Agustus 2018

TOA MASJID TIDAK SALAH, KITA YANG SALAH


Pasti ini bukan yang terakhir, pasti akan ada lagi orang yang mempermasalahkannya. Jumlah masjid terus bertambah, jumlah non muslim pun juga bertambah. Ini bisa saja dianggap soal sederhana, tapi sangat mungkin menjadi rumit yang kemudian melibatkan pihak-pihak yang sebenarnya tak perlu terlibat.  Toa masjid, sejak kapankah benda satu ini ada di dunia? Lalu sejak kapan mengganggu telinga anda?

Senin, 23 Juli 2018

ANAK INDONESIA, HAPE DAN MOTOR


Saya sering mendengar orang bercerita tentang anak-anak mereka. Umumnya mereka menunjukkan rasa senang atau bangga: ada yang bilang anaknya bisa jadi penghilang rasa capek di badan ketika pulang kerja, ada pula yang membanggakan anaknya yang karena bagus rupanya banyak orang menginginkannya. Anak-anak, apalagi ketika mereka sesuai dengan harapan, wajar jika sampai membuat para orang tua begitu gembira, mabuk oleh harapan indah hingga memberikan apa saja demi untuk menyenangkannya. Anak memang harta yang sangat berharga.

Selasa, 12 Juni 2018

SAHUR SAHUR... MANA THR-NYA?


Pastinya tak cuma di sini di desa saya ada aksi membangunkan orang-orang pada dini hari di bulan Romadlon. Di banyak negara yang komunitas muslimnya mayoritas hal semacam itu lumrah. Saya waktu kecil pun sudah melakukannya, keliling kampung membawa apa saja yang bisa jadi tetabuhan untuk mengingatkan orang pada sahur. Entahlah, apakah aksi tombrang-tombreng ini diperlukan atau mengganggu, sepertinya kini banyak yang mengeluhkannya.

Jumat, 01 Juni 2018

LUCUNYA PANCASILA


Mungkin karena negeri ini tanahnya subur makmur gemah ripah loh jinawi tongkat dan kayunya jadi tanaman (kata Koes Plus), maka orangnya secara umum santai dan senang bercanda. Memang ada satu dua yang serius bahkan ada yang selalu pasang tampang sangar, tapi yang begitu pun sering pula menimbulkan gelak tawa. Maka tidak aneh acara televisi pun siang malam isinya lelucon dan banyolan.

Jumat, 20 April 2018

IBU KARTINI SEORANG PESOLEK ?


Besok tanggal 21 April lagi dan Hari Kartini lagi. Sudah puluhan kali peringatan Hari Kartini  diadakan, mungkin sejak dirinya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1964 dan entah sejak kapan saya menyadari keberlangsungannya. Tentunya waktu saya kanak-kanak di sekolah dasar peringatan ini sudah jadi tradisi, Cuma saya tidak benar-benar ingat pada waktu itu, peringatan Hari Kartini memang seperti sekarang ini atau tidak?

Sabtu, 25 November 2017

Guru Jaman Now

Ada peringatan Hari Guru Nasional ternyata kemarin (25.10.2017). Saya yang bukan guru tentu saja tidak begitu ngeh walau tahu ada yang namanya Hari Guru. Dan kemarin saya baru ngeh karena anak-anak sekolah esde lebih cepat pulangnya daripada biasanya. Mungkin gurunya sedang menikmati ‘harinya’ sehingga para siswa bolehlah bebas belajar.

Kamis, 02 November 2017

Registrasi Simcard Prabayar, WhatsApp dan Hoax

Tiga hari sudah waktu registrasi ulang kartu selular prabayar resmi berjalan, menurut berita sudah lebih dari limapuluhpuluh juta yang melakukannya, sepertinya masyarakat sangat antusias. Walau demikian ternyata ada pihak  yang tak mau registrasi lalu bermain-main dengan membuat berita HOAX, dengan menyebar berita bahwa program registrasi ulang ini adalah  yang hoax. Bisa dimaklumi, karena program pemerintah ini salah satu tujuannya adalah untuk menangkal hoax maka tukang hoax pasti melawan.

Jumat, 31 Maret 2017

Bukan Berita Demo 313

Demonstrasi,  sejak sebelum zaman Nabi Adam as sepertinya peristiwa semacam ini sudah terjadi. Anda tentu pernah membaca ketika malaikat diberi tahu oleh Tuhan tentang akan adanya penciptaan Adam as,  dalam Al Quran diceritakan bagaimana reaksi malaikat kemudian. Saya kira itu tak beda dengan sekarang, bedanya antara satu demonstrasi dengan demonstrasi lainnya ada pada pelaku, apa yang sedang diunjukrasakan dan waktunya tentu saja. Dan untuk waktu, rasanya semenjak menjelang zaman reformasi hingga kini demonstrasi di negeri ini yang dilakukan oleh rakyat   begitu warna-warni dan gegap gempita.

Rabu, 16 November 2016

AHOK PENISTA AGAMA ?

Hari ini (`16-11-2016) Ahok telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. Ahok alias Basuki Tjahya Purnama gubernur DKI non aktif sejak sebelum penetapan statusnya dalam kasus penistaan agama sudah diprediksi akan jadi tersangka bahkan sangat mungkin disalahkan. Mengerikan saja membayangkan bagaimana jadinya andai Ahok dibebaskan dari tuduhan itu. Walaupun jelas apa yang terjadi adalah upaya politik menghabisi  Ahok .

Minggu, 26 April 2015

Catatan Tengah Malam

Baru saja saya membaca berita, siang hari ini (26.4.2015) telah ditemukan orang meninggal yang sudah jadi kerangka di rumah tinggalnya di daerah Jakarta Barat. Saya bayangkan saat ini warga yang tinggal di samping rumah mayat itu sedang ngobrol dan satu dua mengekspresikan keperihatinan atau kekagetan. Saya juga pasti akan bersikap begitu. Seperti beberapa waktu lalu ketika di kelurahan tempat saya tinggal di kawasan Jakarta Selatan juga ada kasus yang sama, seseorang ditemukan sudah jadi tengkorak di rumahnya, saya kaget dan tak habis pikir, kenapa sampai bisa terjadi padahal perkampung sudah begitu padat.

Selasa, 21 April 2015

Kartini Bukan Cuma Kebaya dan Bersolek

Setelah sekian lama tak menyaksikan dari dekat peringatan Hari Kartini, tahun ini saya berkesempatan melihat bagaimana anak-anak Sekolah Dasar memeriahkan agenda tahunan ini. Sudah tradisi, setiap tiba Hari Kartini tiap tanggal 21 April, akan ada perempuan-perempuan—dari anak-anak sampai manula--berkebaya dikumpulkan di suatu tempat dan menjadi tontonan.  Tak cuma jadi tontonan, biasanya ada juri yang menilai bagusnya kebaya yang dikenakan atau diadakan lomba luwes-luwesan berjalan pakai kebaya.

Minggu, 02 November 2014

Aku, Dokter dan Bupati Enthus

Dokter punya banyak cara, dan pasti Tuhan juga. Cuma pasti Tuhan punya lebih banyak karena Dia tahu segalanya. Tuhan juga tidak terhingga motifnya dalam bekerja, sehingga tidak remeh temeh cara-cara-Nya. Dokter? Seberapa hebat reputasinya dan seberapa banyak manusia yang berharap pada pertolongannya, apabila dalam bekerjanya hanya uang motifnya, bagaimanapun canggih cara kerjanya tetap saja bisa direken. Dokter bisa saja mengaku bekerja demi kemanusiaan, tapi tetap saja kebohongan bisa dikenali.