Tampilkan postingan dengan label Kriminalitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kriminalitas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 April 2019

Audrey atau Bukan Audrey


Ramai-ramai orang mendukung  Audrey gadis yang beberapa waktu lalu jadi korban penganiayaan di kalangan ABG (Anak Bapak-ibu Gebleg) Kalimantan itu. Sampai banyak artis sok peduli dan kini kasusnya bahkan melebar ke pemilu dimana salah seorang pelaku konon anak seorang calon anggota legislatif. Entah seperti apa kejadian yang sebenarnya, yang jelas kini ada keterangan yang berbeda dari kabar liar di media sosial. Sebelumnya dikatakan pengeroyok berjumlah belasan dan alat kelamin korban dirusak, tapi hasil otopsi menyangkal adanya kerusakan bahkan badan korban pun bersih dari luka dan lebam.

Selasa, 05 Maret 2019

Nakoba, Teler, Terangkap Deh


Lagi seorang selebritas dari dunia politik menggemparkan media massa, seorang politikus dari Partai Demokrat yang beberapa waktu terakhir namanya jadi berita di koran-koran nasional dan jadi gunjingan di medsos, Andi Arief tertangkap atau ditangkap karena masalah narkoba. Mengejutkan walau tidak mengagetkan (entah apa maksudnya ini). Saya terkejut saat pertama membaca beritanya, tapi sejenak saya sudah menganggap ini kasus yang bisa menimpa siapa saja kapan saja. Dia bukan yang pertama dari kalangannya yang terjerat masalah seperti ini.

Jumat, 05 Oktober 2018

OKTOBER TANGGAL MUDA


Apakah kita bangsa penjarah? Jika pertanyaan itu diajukan pada sebanyak mungkin orang Indonesia sangat mungkin jawabannya mayoritas mengatakan tidak atau bukan. Kita adalah bangsa yang sopan santun, suka tolong menolong, senang bergotong royong, beragama dan masih banyak lagi istilah yang membanggakan yang biasa kita dengar semenjak kecil. Saya masih ingat, pada masa sekolah saat pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) siapapun gurunya selalu memuji keluhuran bangsa ini, yang biasanya diikuti dengan menjelek-jelekkan bangsa lain.

Sayangnya perlahan tapi pasti, segala yang pernah saya dengar dari guru-guru PMP itu mulai terkikis seiring bertambahnya usia, banyaknya bacaan dan bertemu rupa-rupa manusia. Hingga kemudian saya merantau dan ikut mengalami masa-masa sulit negeri ini yaitu saat dilanda krisis setelah tumbangnya Orde Baru, rasanya hampir habis rasa percaya saya pada guru PMP. Dan kini sedang gamblang kita saksikan,  di mana baru saja tertimpa bencana, suasana masih berduka, seakan tak ada rasa sungkan sama sekali, orang beramai-ramai  mengambil apa saja barang milik orang lain yang juga sedang sama tertimpa bencana.

Memang ada alasan sebagai pembenar pada setiap laku yang dianggap tidak benar, tapi namanya pembenar selalu tidak pasti benar. Yang jadi alasan mereka para penjarah BBM di SPBU misalnya, katanya kendaraan mereka butuh bahan bakar untuk mencari anggota keluarga mereka yang hilang haha. Lalu mereka yang menjarah di pusat perbelanjaan, untuk apa segala macam barang elektronik—ada sebuah foto menampilkan seseorang memboceng motor memangku monitor televisi selebar lemari—diangkut dalam situasi sulit tanpa tempat tinggal dan listrik. Mungkinkah para penjarah itu datang dari tempat yang jauh—bukan warga yang sedang tertimpa musibah?

Dalam situasi yang mestinya manusia dekat kepada Tuhan saja kebejatan tak bisa dibendung, apalagi pada keadaan yang memungkinkan manusia sombong. Penjarahan demi penjarahan begitu sering kita saksikan kini dan sangat mungkin itu semua bukan kebiasaan baru, Tak aneh jika negeri ini pejabatnya tukang korupsi, pedagangnya tukang ngapusi, polisinya berteman dengan pencuri, jangan-jangan segala macam puja-puji untuk diri sendiri itu cuma sublimasi. Agama yang jadi kebanggaan, pada akhirnya kini pun hanya sebatas pakaian dan ceramah basa-basi.

Baru saja negeri ini memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dasar negara kita yang dibanggakan itu apanya yang sakti? Sebatas Pancasila tak bisa diubah oleh para pembencinya dan konon gagal  diganti dengan Idiologi Komunis? Pada hari ketika kesaktiannya diperingati, bangsanya justru pamer sikap ketidak bertuhanan, ketidakadilan, dan menodai persatuan di layar televisi lalu disaksikan oleh dunia, topeng apa lagi yang akan kita gunakan untuk menutupi wajah bopeng ini? Kita menolak komunis karena katanya idiologi ini menghalalkan segala cara untuk meraih yang diinginkan, lalu apa yang kini sama-sama kita saksikan?

Rasanya, jika masih mungkin kita memperbaiki diri, yang pertama harus dilakukan adalah mengakui sejujur-jujurnya siapa sebenarnya diri ini. Bersama-sama duduk menangisi dosa dan segala kepalsuan yang selama ini menjadi laku harian kita, bertobat dan kalau masih yakin dengan Kesaktian Pancasila, bersama-sama kita memahami kandungannya dan bersama-sama pula mengamalkannnya.

Hmmm… enaknya nggomong sendiri di tanggal muda.



Senin, 24 September 2018

HARINGGA KORBAN KE BERAPA?


Kembali ramai orang mengutuk, menyesalkan, berduka cita dan macam-macam di media-media massa hari ini di negeri ini. Semua karena Haringga Sirla, suporter Persija (Jak Mania-) yang tewas dikeroyok pendukung Persib di Gelora Bandung Lautan Api menjelang pertandingan Persib vs Persija kemarin. Peristiwa brutal dan segala yang mengikutinya tentu saja bukan hal baru, sudah sering dan korban tewas dalam kondisi mengerikan sudah panjang daftarnya. Adakah yang luar biasa di sini?

Rabu, 09 Mei 2018

BRIMOB LAWAN TERORRIS


Mungkin sudah bisa diisolasi gerombolan napi terorisme yang mengacau di Mako Brimob, tapi kenyataannya polisi belum mampu mengatasi masalah. Lima polisi tewas di markas dan seorang lagi masih disandera saya rasa bisa jadi bukti. Banyak orang geliisah hari ini sudah pasti. Mereka, bukan saja yang kini sedang berhadap-hadapan langsung di dalam, di luarpun tak kurang tegangnya. Akan sampai kapan?

Jumat, 15 April 2011

Ledakan Bom Lagi

Kini televisi sedang gencar-gencarnya memberitakan peristiwa ledakan bom yang bebarapa saat lewat (pukul 12.30) terjadi di Masjid polresta Cirebon, Jawa Barat. Tepatnya ledakan itu terjadi pada saat menjelang sholat jumat dimulai. Menurut keterangan ledakan berasal dari shaf nomor tiga. Ini jelas kesengajaan atau aksi yang sering disebut dengan bom bunuh diri. Pelakunya diberitakan meninggal dan melukai banyak orang.

Jumat, 03 September 2010

WASPADALAH

Seruan Bang Napi tentu masih terngiang di telinga kita, "Waspadalah...waspadalah!" begitulah yang diikuti sebuah pernyataan. Dan sekarang di beberapa tempat, khususnya di stasiun dan terminal dan pastinya juga di pelabuhan telah banyak terpasang spanduk-spanduk peringatan yang kata "waspada" ada di sana. Tujuannya tentu mengingatkan para pengguna jasa angkutan yang pada saat-saat seperti ini biasanya melimpah. Dan melimpahnya manusia yang hendak pulang ke kampung halaman dengan bawaan yang melimpah juga sudah barang tentu jadi incaran para penjahat.