Tulisan
ini tentang Bantuan Sosial Tunai yang sekarang sedang dalam pencairan gelombang
kedua yang rasanya belum atau tidak beres. Lebih spesifik lagi ini tentang
tetangga sebelah rumah yang nasibnya sudah sejak lama jauh berbeda dan hingga
kini tetap demikian karena tatanan sosial kita yang kacau. Jadi koar-koar di
media sosial belakangan ini soal tidak adilnya pembagian Bansos itu pada
kenyataannya bukan sekedar ekspresi kaum pendengki. Walaupun saya yakin mereka
yang mengalami ketidakadilan lebih banyak yang diam alias pasrah.
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Juni 2020
Jumat, 05 Oktober 2018
OKTOBER TANGGAL MUDA
Apakah kita bangsa penjarah? Jika
pertanyaan itu diajukan pada sebanyak mungkin orang Indonesia sangat mungkin
jawabannya mayoritas mengatakan tidak atau bukan. Kita adalah bangsa yang sopan
santun, suka tolong menolong, senang bergotong royong, beragama dan masih
banyak lagi istilah yang membanggakan yang biasa kita dengar semenjak kecil.
Saya masih ingat, pada masa sekolah saat pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila)
siapapun gurunya selalu memuji keluhuran bangsa ini, yang biasanya diikuti
dengan menjelek-jelekkan bangsa lain.
Sayangnya perlahan tapi pasti, segala
yang pernah saya dengar dari guru-guru PMP itu mulai terkikis seiring
bertambahnya usia, banyaknya bacaan dan bertemu rupa-rupa manusia. Hingga
kemudian saya merantau dan ikut mengalami masa-masa sulit negeri ini yaitu saat
dilanda krisis setelah tumbangnya Orde Baru, rasanya hampir habis rasa percaya saya
pada guru PMP. Dan kini sedang gamblang kita saksikan, di mana baru saja tertimpa bencana, suasana
masih berduka, seakan tak ada rasa sungkan sama sekali, orang beramai-ramai mengambil apa saja barang milik orang lain
yang juga sedang sama tertimpa bencana.
Memang ada alasan sebagai pembenar
pada setiap laku yang dianggap tidak benar, tapi namanya pembenar selalu tidak
pasti benar. Yang jadi alasan mereka para penjarah BBM di SPBU misalnya,
katanya kendaraan mereka butuh bahan bakar untuk mencari anggota keluarga
mereka yang hilang haha. Lalu mereka yang menjarah di pusat perbelanjaan, untuk
apa segala macam barang elektronik—ada sebuah foto menampilkan seseorang
memboceng motor memangku monitor televisi selebar lemari—diangkut dalam situasi
sulit tanpa tempat tinggal dan listrik. Mungkinkah para penjarah itu datang dari
tempat yang jauh—bukan warga yang sedang tertimpa musibah?
Dalam situasi yang mestinya manusia
dekat kepada Tuhan saja kebejatan tak bisa dibendung, apalagi pada keadaan yang
memungkinkan manusia sombong. Penjarahan demi penjarahan begitu sering kita
saksikan kini dan sangat mungkin itu semua bukan kebiasaan baru, Tak aneh jika
negeri ini pejabatnya tukang korupsi, pedagangnya tukang ngapusi, polisinya berteman dengan pencuri, jangan-jangan segala
macam puja-puji untuk diri sendiri itu cuma sublimasi. Agama yang jadi
kebanggaan, pada akhirnya kini pun hanya sebatas pakaian dan ceramah basa-basi.
Baru saja negeri ini memperingati
Hari Kesaktian Pancasila, dasar negara kita yang dibanggakan itu apanya yang
sakti? Sebatas Pancasila tak bisa diubah oleh para pembencinya dan konon
gagal diganti dengan Idiologi Komunis? Pada
hari ketika kesaktiannya diperingati, bangsanya justru pamer sikap ketidak
bertuhanan, ketidakadilan, dan menodai persatuan di layar televisi lalu
disaksikan oleh dunia, topeng apa lagi yang akan kita gunakan untuk menutupi
wajah bopeng ini? Kita menolak komunis karena katanya idiologi ini menghalalkan
segala cara untuk meraih yang diinginkan, lalu apa yang kini sama-sama kita
saksikan?
Rasanya, jika masih mungkin kita
memperbaiki diri, yang pertama harus dilakukan adalah mengakui sejujur-jujurnya
siapa sebenarnya diri ini. Bersama-sama duduk menangisi dosa dan segala
kepalsuan yang selama ini menjadi laku harian kita, bertobat dan kalau masih
yakin dengan Kesaktian Pancasila, bersama-sama kita memahami kandungannya dan
bersama-sama pula mengamalkannnya.
Hmmm… enaknya nggomong sendiri di tanggal muda.
Kamis, 05 Juli 2018
BUKAN SUSU KENTAL MANIS
“Susu
saya susu bendera.” Saya yakin masih banyak yang ingat dengan slogan iklan sebuah produk susu kemasan tekenal ini. Bunyi
yang enak didengar seenak produknya itu entah sejak kapan tidak beredar, saya
baru sadar belakangan setelah ramai di media soal produk susu kental manis yang
katanya bukan susu. Lalu sejak kapan pula susu kental manis bukan susu?
Selasa, 12 Juni 2018
SAHUR SAHUR... MANA THR-NYA?
Pastinya
tak cuma di sini di desa saya ada aksi membangunkan orang-orang pada dini hari
di bulan Romadlon. Di banyak negara yang komunitas muslimnya mayoritas hal semacam
itu lumrah. Saya waktu kecil pun sudah melakukannya, keliling kampung membawa
apa saja yang bisa jadi tetabuhan untuk mengingatkan orang pada sahur.
Entahlah, apakah aksi tombrang-tombreng
ini diperlukan atau mengganggu, sepertinya kini banyak yang mengeluhkannya.
Senin, 25 Agustus 2014
Krisis BBM dan Jokowi
“Kepriben kiye, bensin pada laka? Kowen sih milih
Jokowi.” Begitu kata seorang tetangga yang kebetulan ketemu di SPBU saat sama-sama
mau mengisi bensin. Bahasa lokal itu kalau dibahasa-Indonesiakan bisa jadi
begini: Bagaimana ini, bensin nggak ada. Kamu sih milih Jokowi. Haha...bisa
jadi itu cuma kelakar untuk membuat suasana jadi ceria, tapi ternyata pada
kesempatan yang lain dalam suasana yang sama bergerombol di SPBU yang sudah tak
menjual BBM apapun seloroh tentang Jokowi yang disangkutpautkan dengan kelangkaan
BBM muncul lagi. Bahkan ternyata di beranda facebook lebih parah, para
pendengki itu menulis status bahwa Jokowi presiden tidak bisa kerja, baru jadi
presiden sudah bikin rakyat susah.
Jumat, 14 Desember 2012
Bakso Babi dan Sertifikat Halal
Berita ditemukannya bakso daging babi tambah ramai saja. Ternyata ada
di banyak tempat di Jakarta, dari Jakarta Selatan sampai Jakarta Utara.
Sejauh ini menurut berita tak ada sangsi untuk mereka para pembuatnya,
dan dari berita yang saya tonton di televisi kemarin para pelakunya
tampak seneng-seneng saja ketika disorot kamera, salah satu pelaku
sambil cengengesan ngomong begini: "namanya juga orang usaha..."
Rabu, 12 Januari 2011
Harga Cabai Naik Petani Untung?
Berita tentang harga cabai yang melangit pasti saudara sekalian telah menyimaknya dari media-media yang terus bawel memberitakan. Apalagi kalau saudara biasa belanja ke pasar, pasti bisa merasakan langsung betapa pedagang-pedagang itu seperti pelit njitit wasaitit. Sekilo cabai sampai seratus ribu.
Langganan:
Postingan (Atom)