Tampilkan postingan dengan label POLEMIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLEMIK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2020

BANSOS CORONA MEMANG TIDAK ADIL


Tulisan ini tentang Bantuan Sosial Tunai yang sekarang sedang dalam pencairan gelombang kedua yang rasanya belum atau tidak beres. Lebih spesifik lagi ini tentang tetangga sebelah rumah yang nasibnya sudah sejak lama jauh berbeda dan hingga kini tetap demikian karena tatanan sosial kita yang kacau. Jadi koar-koar di media sosial belakangan ini soal tidak adilnya pembagian Bansos itu pada kenyataannya bukan sekedar ekspresi kaum pendengki. Walaupun saya yakin mereka yang mengalami ketidakadilan lebih banyak yang diam alias pasrah.

Kamis, 27 Juni 2019

STOP GADUH POLITIK


Pada akhirnya sesuatu yang telah saya yakini  bahwa Mahkamah Konstitusi (MK) akan menolak semua tuntutan pihak BPN (Badan Pemenangan Nasional) malam ini benar terbukti. Tuduhan-tuduhan kecurangan yang selama ini gencar disuarakan begitu jelas mengada-ada. Terlalu jelas sikap mereka yang tak mau mengakui kekalahan itu, sikap mereka dalam berpolitik tak beda dengan sikap sehari-hari orang-orang kebanyakan di negeri ini, takut kalah tapi tak peduli pada cara terbaik bagaimana mendapat kemenangan.

Kamis, 14 Februari 2019

KAMPANYE DI MASJID


Beredarnya iklan ajakan Sholat Jumat bersama Capres 02 Prabowo Subianto di Masjid Kauman Semarang, bagi saya ini kampanye di tempat ibadah. Bahkan kalau besok saat berlangsung acara di sana bersih dari atribut kampanye dan tak ada kata-kata yang bisa dikategorikan sebagai kampanye, tetap saja akan sulit untuk menyangkal bahwa semua itu bukan kampanye. Bawaslu dalam hal ini harusnya tegas menyatakan iklan ini sebagai pelanggaran dalam pemilu. Tentu saja tak bisa serta merta melarang Prabowo jumatan di Masjid Kauman, karena pasti perdebatannya bisa panjang-lebar, cukup tetapkan ini sebagai kampanye di masjid.

Senin, 29 Oktober 2018

BANSER MULIAKAN KALIMAT TAUHID ?


Entah akan sampai di mana panjangnya buntut aksi bakar bendera di Hari Santri Nasional lalu yang dilakukan oleh Banser. Semoga ada hal baru yang bisa mengalihkan perhatian mereka, karena aksi bakar bendera itu (walau disesalkan karena menimbulkan kegaduhan) bukanlah sesuatu yang benar-benar luar biasa. Bendera yang disebut sebagai Bendera Nabi yang di sana ada kalimat tauhidnya, nyatanya cuma kain bendera biasa yang tiap-tiap orang bisa punya gaya berbeda saat memegangnya, begitu pula sikap melecehkan dan memuliakannya. Dan pada kasus ini, yang dilakukan Banser bisa jadi niatnya mulia.

Sabtu, 25 Agustus 2018

TOA MASJID TIDAK SALAH, KITA YANG SALAH


Pasti ini bukan yang terakhir, pasti akan ada lagi orang yang mempermasalahkannya. Jumlah masjid terus bertambah, jumlah non muslim pun juga bertambah. Ini bisa saja dianggap soal sederhana, tapi sangat mungkin menjadi rumit yang kemudian melibatkan pihak-pihak yang sebenarnya tak perlu terlibat.  Toa masjid, sejak kapankah benda satu ini ada di dunia? Lalu sejak kapan mengganggu telinga anda?

Kamis, 05 Juli 2018

BUKAN SUSU KENTAL MANIS


“Susu saya susu bendera.” Saya yakin masih banyak yang ingat dengan slogan iklan  sebuah produk susu kemasan tekenal ini. Bunyi yang enak didengar seenak produknya itu entah sejak kapan tidak beredar, saya baru sadar belakangan setelah ramai di media soal produk susu kental manis yang katanya bukan susu. Lalu sejak kapan pula susu kental manis bukan susu?

Selasa, 12 Juni 2018

SAHUR SAHUR... MANA THR-NYA?


Pastinya tak cuma di sini di desa saya ada aksi membangunkan orang-orang pada dini hari di bulan Romadlon. Di banyak negara yang komunitas muslimnya mayoritas hal semacam itu lumrah. Saya waktu kecil pun sudah melakukannya, keliling kampung membawa apa saja yang bisa jadi tetabuhan untuk mengingatkan orang pada sahur. Entahlah, apakah aksi tombrang-tombreng ini diperlukan atau mengganggu, sepertinya kini banyak yang mengeluhkannya.

Kamis, 05 April 2018

KEPADA IBU INDONESIA: BUKTIKAN!


Lanjut soal puisi “Ibu Indonesia” milik Ibu Sukmawati Soekarnoputri yang bikin heboh itu. Apakah akan tambah heboh atau berakhir kita lihat sama-sama besok siang (6/4/2018), kalau ada demo di Monas berarti kasusnya akan panjang dan kalau tidak jadi demonya berarti Syariat Islam dijalankan—dalam Islam memberi maaf sangat ditekankan. Sang Ibu Indonesia sudah meminta maaf, sudah menangis, sudah cium tangan Ketua MUI segala, haruskah dipenjara?