Senin, 29 Oktober 2018

BANSER MULIAKAN KALIMAT TAUHID ?


Entah akan sampai di mana panjangnya buntut aksi bakar bendera di Hari Santri Nasional lalu yang dilakukan oleh Banser. Semoga ada hal baru yang bisa mengalihkan perhatian mereka, karena aksi bakar bendera itu (walau disesalkan karena menimbulkan kegaduhan) bukanlah sesuatu yang benar-benar luar biasa. Bendera yang disebut sebagai Bendera Nabi yang di sana ada kalimat tauhidnya, nyatanya cuma kain bendera biasa yang tiap-tiap orang bisa punya gaya berbeda saat memegangnya, begitu pula sikap melecehkan dan memuliakannya. Dan pada kasus ini, yang dilakukan Banser bisa jadi niatnya mulia.

Selasa, 16 Oktober 2018

JANGAN UNDANG BENCANA, BRO!


Sembrono dan tidak peduli lingkungan. Saya kira sebutan itu tidak berlebihan untuk prilaku warga di musim kemarau ini yang  membakar sampah asal-asalan. Sselain membuang sampah ke sungai, belakangan saya perhatikan warga juga membakari dedaunan dan rumput kering di sembarang tempat. Saya juga sering membakar sampah di pekarangan rumah, tapi dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibakar. Juga tak dibiarkan begitu saja, karena bisa ssaja ada api diterbangkan angin dan membakar rumah.

Jumat, 05 Oktober 2018

OKTOBER TANGGAL MUDA


Apakah kita bangsa penjarah? Jika pertanyaan itu diajukan pada sebanyak mungkin orang Indonesia sangat mungkin jawabannya mayoritas mengatakan tidak atau bukan. Kita adalah bangsa yang sopan santun, suka tolong menolong, senang bergotong royong, beragama dan masih banyak lagi istilah yang membanggakan yang biasa kita dengar semenjak kecil. Saya masih ingat, pada masa sekolah saat pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) siapapun gurunya selalu memuji keluhuran bangsa ini, yang biasanya diikuti dengan menjelek-jelekkan bangsa lain.

Sayangnya perlahan tapi pasti, segala yang pernah saya dengar dari guru-guru PMP itu mulai terkikis seiring bertambahnya usia, banyaknya bacaan dan bertemu rupa-rupa manusia. Hingga kemudian saya merantau dan ikut mengalami masa-masa sulit negeri ini yaitu saat dilanda krisis setelah tumbangnya Orde Baru, rasanya hampir habis rasa percaya saya pada guru PMP. Dan kini sedang gamblang kita saksikan,  di mana baru saja tertimpa bencana, suasana masih berduka, seakan tak ada rasa sungkan sama sekali, orang beramai-ramai  mengambil apa saja barang milik orang lain yang juga sedang sama tertimpa bencana.

Memang ada alasan sebagai pembenar pada setiap laku yang dianggap tidak benar, tapi namanya pembenar selalu tidak pasti benar. Yang jadi alasan mereka para penjarah BBM di SPBU misalnya, katanya kendaraan mereka butuh bahan bakar untuk mencari anggota keluarga mereka yang hilang haha. Lalu mereka yang menjarah di pusat perbelanjaan, untuk apa segala macam barang elektronik—ada sebuah foto menampilkan seseorang memboceng motor memangku monitor televisi selebar lemari—diangkut dalam situasi sulit tanpa tempat tinggal dan listrik. Mungkinkah para penjarah itu datang dari tempat yang jauh—bukan warga yang sedang tertimpa musibah?

Dalam situasi yang mestinya manusia dekat kepada Tuhan saja kebejatan tak bisa dibendung, apalagi pada keadaan yang memungkinkan manusia sombong. Penjarahan demi penjarahan begitu sering kita saksikan kini dan sangat mungkin itu semua bukan kebiasaan baru, Tak aneh jika negeri ini pejabatnya tukang korupsi, pedagangnya tukang ngapusi, polisinya berteman dengan pencuri, jangan-jangan segala macam puja-puji untuk diri sendiri itu cuma sublimasi. Agama yang jadi kebanggaan, pada akhirnya kini pun hanya sebatas pakaian dan ceramah basa-basi.

Baru saja negeri ini memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dasar negara kita yang dibanggakan itu apanya yang sakti? Sebatas Pancasila tak bisa diubah oleh para pembencinya dan konon gagal  diganti dengan Idiologi Komunis? Pada hari ketika kesaktiannya diperingati, bangsanya justru pamer sikap ketidak bertuhanan, ketidakadilan, dan menodai persatuan di layar televisi lalu disaksikan oleh dunia, topeng apa lagi yang akan kita gunakan untuk menutupi wajah bopeng ini? Kita menolak komunis karena katanya idiologi ini menghalalkan segala cara untuk meraih yang diinginkan, lalu apa yang kini sama-sama kita saksikan?

Rasanya, jika masih mungkin kita memperbaiki diri, yang pertama harus dilakukan adalah mengakui sejujur-jujurnya siapa sebenarnya diri ini. Bersama-sama duduk menangisi dosa dan segala kepalsuan yang selama ini menjadi laku harian kita, bertobat dan kalau masih yakin dengan Kesaktian Pancasila, bersama-sama kita memahami kandungannya dan bersama-sama pula mengamalkannnya.

Hmmm… enaknya nggomong sendiri di tanggal muda.



Senin, 24 September 2018

HARINGGA KORBAN KE BERAPA?


Kembali ramai orang mengutuk, menyesalkan, berduka cita dan macam-macam di media-media massa hari ini di negeri ini. Semua karena Haringga Sirla, suporter Persija (Jak Mania-) yang tewas dikeroyok pendukung Persib di Gelora Bandung Lautan Api menjelang pertandingan Persib vs Persija kemarin. Peristiwa brutal dan segala yang mengikutinya tentu saja bukan hal baru, sudah sering dan korban tewas dalam kondisi mengerikan sudah panjang daftarnya. Adakah yang luar biasa di sini?

Kamis, 20 September 2018

PEMILU LAGI.... AH !


Pasangan Capres-cawapres dan Daftar Calon Tetap (DCT) Calon Anggota Legislatif atau Caleg DPR RI dan DPD RI telah ditetapkan KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan apakah kita sudah siap ikut pemilu lagi? Siap tidak siap, kita sebagai rakyat jika diajukan pertanyaan jawabanyya pasti siap, memang apa susahnya datang ke Tempat Pemungutan Suara ( TPS) dan menusuk-nusuk kertas suara, ya toh? Artinya, silahkan bersaing bagi mereka yang punya banyak uang untuk berebut kursi dan kedudukan, asal jangan lupa dengan rakyat kebanyakan yang setiap hari peras keringat banting tulang demi bertahan hidup, bagi-bagilah walau sekedar untuk beli pulsa.

Sabtu, 25 Agustus 2018

TOA MASJID TIDAK SALAH, KITA YANG SALAH


Pasti ini bukan yang terakhir, pasti akan ada lagi orang yang mempermasalahkannya. Jumlah masjid terus bertambah, jumlah non muslim pun juga bertambah. Ini bisa saja dianggap soal sederhana, tapi sangat mungkin menjadi rumit yang kemudian melibatkan pihak-pihak yang sebenarnya tak perlu terlibat.  Toa masjid, sejak kapankah benda satu ini ada di dunia? Lalu sejak kapan mengganggu telinga anda?

Sabtu, 18 Agustus 2018

MERDEKANYA KIDS JAMAN NOW


Sepuluh tahun lalu saya pernah mendengar dua orang tua ngorol, yang dibahasnya tentang anak-anak. Dikatakan oleh yang berbicara bahwa anak-anak sekarang tak punya sopan santun, tidak hormat pada orang tua, bicaranya kasar dan macam-macam. Pada kesempatan lain ada seorang aktivis muda yang berbicara dengan keras di forum diskusi, bahwa orang tua zaman sekarang menurutnya tak layak dapat rasa hormat dari anaknya. Anak-anak yang lahir belakangan bisa jadi hanya meniru dan orang tua yang merasa telah bekerja untuk menghidupi pastinya ingin dihargai, tapi apa mau dikata kini adalah eranya Kids Jaman Now.