Jumat, 07 Oktober 2011

Kenapa Pula Cium Tangan?

Sejak pertama kali melihat seorang ABG putri mencium/meletakkan di kening tangan ABG pria yang sepertinya pacarnya saya sudah merasa ada masalah di sana, sesuatu yang kemudian menggelisahkan saya setiap kali melihat adegan semacam itu. Entah sejak kapan lelaku semacam itu berlangsung pada mereka yang masih pacaran-- wanitanya mencium tangan prianya ketika bertemu atau saat akan berpisah. Setahu saya tradisi cium tangan hanya dilakukan oleh seorang istri pada suaminya atau yang lazim dilakukan oleh anak-anak pada orang tuanya.


Saya merasa ada masalah karena selama ini saya sendiri merasa risih saat ada seseorang mencium tangan saya saat bersalaman. Kepada keponakan atau anak saudara yang ketika kita berjumpa dan bersalaman mereka mencium tangan saya biasanya saya akan tanyakan padanya kenapa dia mencium tangan saya. Mereka selalu saja tak bisa menjawab, sebagaimana saya yakin umumnya kita yang telah lama melakukan tradisi ini pun tak benar-benar tahu kenapa hal itu dilakukan.

Tentu saja saya bisa menolak ketika ada orang yang akan mencium tangan saya, tapi hal itu saya anggap sama bermasalahnya, karena mencium tangan tentu bukan hal salah kalau ada alasan yang jelas ketika melakukannya. Maka saya biasanya bertanya kenapa tangan saya dicium atau saya juga  ikut-ikutan mencium tangannya agar berasa adil.

Tradisi mencium tangan yang akrab dalam hidup saya semenjak kecil biasanya dilakukan pada saat bersalaman dengan orang tua dan saat bertemu dengan seorang tokoh seperti kiai atau ulama. Bagi saya ini jelas motifnya, sebagaimana saya pernah mendengar cerita Nabi Muhammad SAW saat berjumpa dengan seseorang yang bekerja sebagai pemecah batu beliau pun mencium tangan lelaki yang kasar karena pekerjaannya itu. Alasannya adalah karena pada tangan itu terdapat kemuliaan

Tangan orang tua kita jelas sekali merupakan sepasang tangan yang mulia, karena tangan mereka telah digunakan untuk bekerja demi menafkahi kita anak-anaknya. Mereka bekerja demi keluarga siang-malam dan jelas hasilnya. Para ulama atau guru-guru kita, mereka layak dicium tangannya juga karena mereka telah bekerja mencari pengetahuan dan membangun keilmuan (sesuatu yang tak setiap manusia mau melakukannya) yang karenanya hidup menjadi lebih baik. Pemecah batu yang tangannya dicium oleh Nabi itu pun layak, karena pekerjaan beratnya jelas bermanfaat bagi orang banyak.
Bagaimana dengan seorang remaja putri yang mencium tangan pacarnya, menurut saya sesuatu yang berlebihan. Dalam hubungan yang jelas setara, dimana pihak pria tidak lebih utama dari wanita karena masing-masing masih mandiri tak tergantung pada salah satunya, tindakan mencium tangan sebagai rasa hormat atau apapun alasannya menurut saya tidak ada nilai kebaikannya. Apalagi dalam hubungan yang disebut dengan pacaran kecenderungannya adalah eksploitatif. Mencium tangan jelas merendahkan derajat wanita dan akan menyuburkan keangkuhan pada diri pria. 

Saya sendiri lebih senang dicium di bagian pipi oleh istri daripada di punggung tangan. Bagi saya, jelas sekali pada tindakan mencium tangan dengan menunduk ada ekspresi merendahkan diri. Ekspresi merendahkan diri di depan orang lain mungkin untuk disalahartikan atau dimanfaatkan. Apalagi pada hubungan dua manusia yang mungkin padanya ada unsur saling memanfaatkan. Siapa pula ingin diremehkan atau ditindas dalam hidup ini, pasti tidak ada. Tapi kadang karena kebodohan, kita melakukan tindakan yang justru membuka jalan lapang bagi hadirnya penindasan itu. Maka penting tindakan berangkat selalu dari kesadaran.


13 komentar:

r10 mengatakan...

sama saya juga risi, sama orang pacaran tapi sudah berlagak mereka suami istri, apa2 musti ijin pacar
-_-'

rabest mengatakan...

aku suka cium tangan pas abis sholat...sama siapapun yang ku shalat bareng, walopun nggak kenal sekalipun (kalo pas shlat di masjid)..gak tau deh, udah kebiasaan kali yaaaa..tapi itu juga nggak dicium kok tangannya, ditempelin di dah aja...

kalo kasusku kayk gini bukan bicara tentang siapa yang "rendah" siapa yang " tinggi" tho?

iam mengatakan...

Iya ya, jaman sekarang makin aneh aja pacarannya -_-

catatan kecilku mengatakan...

Semua tergantung persepsi masing2. Ada banyak wanita yg dengan senang hati mencium tangan suaminya dan tidak merasa direndahkan karenanya.
Tapi aku setuju juga... kalau masih dalam taraf pacaran, memang berlebihan jika wanitanya mencium tangan kekasihnya.

Muhammad A Vip mengatakan...

rio:lebih dari itu tidur bareng :(
rabest:saat melakukannya sadar rasanya kalau pun ada tinggi rendah keadaanya bisa berbalik, yang mencium bisa lebih mulia dari yang dicium
iam:saya jadi pengin ikutan ...
mbak reni:shasa belum pacarankan mbak?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ya bener. sebaiknya itu kalo udah menikah aja. untung saya gak ada tradisi cium tangan. hehehe...paling cium pipi aja kalo sama pangeran.

Mr Nyariadi mengatakan...

saya mencium tangannya ortu dan org2 sebagai guru saya sebagai rasa hormat dan terimakasih.

Ejawantah's Blog mengatakan...

Suatu pembelajaran budipekerti dalam kehidupan dengan salaing menghormati yang lebih tua.

Tapi sayangnya orang yang masih pacaran yang bukan muhrimnya mengapa dijadikan bahasa pembenaran ya Sob ?

Sukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog

Muhammad A Vip mengatakan...

nyariadi:saya juga
Ejawantah:sukses juga bro

kinanthi mengatakan...

Rasa 'heran' yang sama, nalar yg gimana kok bisa sama pacar ada style cium tangan? Dan ngrasa risi saat tangan saya di cium ketika ada ada SMK yg PKL di tempat kerja saya? Saya jd mikir apa saya sudah tua banget ya...hehehe..
Saya sampai sekarang kalau cium tangan ya pada ortu..kalau sama orang lain meski lebh tua ya cukup jabat tangan.

zone mengatakan...

wajarlah mas...
kelakuan rang pacaran kan aneh2.... dan kadang lebay...
:P

mohamad rivai mengatakan...

nggak juga om.

namanya hormat ntu.
eh, menghormati.

Muhammad A Vip mengatakan...

rivai:ya wis