Rabu, 25 Agustus 2010

SMP = Sekolah Manggul Pacul

SMP yang sejatinya kependekan dari Sekolah Menengah Pertama, dulu ketika saya berada pada masanya SMP ini mempunyai banyak kepanjangan. Ada dua yang akrab di telinga waktu itu, Sekolah Mencari Pacar dan Sekolah Manggul Pacul. Yang pertama tentu karena pada masa itulah anak-anak mulai belajar mengenal lawan jenis alias pacaran. Sedangkan yang ke dua berkaitan dengan mereka yang tak mampu melanjutkan sekolah dan harus membantu orang tua mereka kerja di sawah.

Kedua-duanya saya rasa sekarang sudah jarang terdengar. Yang pertama mungkin masih tetap relevan hingga kini, tapi yang ke dua bisa jadi sudah tak terpakai karena secara umum orang tua zaman sekarang  dapat menyekolahkan anak mereka sampai jenjang SMP bahkan lebih. Tidak seperti dulu, ketika saya lulus SD hanya separoh teman-teman saya yang melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. Dan merekalah yang kemudian masuk ke jenjang  Sekolah Manggul Pacul. Walaupun tak semuanya manggul pacul, karena ada yang jadi pedagang, ada yang jadi kenek angkot dan lain-lain.

Tidak populernya ungkapan Sekolah Manggul Pacul sekarang ini -tentu ini di kampung saya- sesungguhnya bukan karena mereka yang tak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang SMP sudah tidak ada. Sebenarnya di kampung-kampung di Indonesia masih banyak. Tak perlu di desa terpencil, bahkan untuk desa seperti di tempat saya berasal yang sudah dekat dengan kota dan sudah penuh kemudahan, masih banyak mereka di sana. Saya akan menceritakan salah satunya di sini.

Namanya Roni. Entah apa nama panjangnya, yang pasti biasa dipanggil Roni. Tampangnya lumayan cakep, badannya kecil untuk anak berumur limabelas tahun. Setiap hari selalu pergi ke sawah, untuk mengurus sawah sendiri atau bekerja pada orang lain. Semua yang dilakukannya tentu untuk membantu orang tuanya. Bahkan adiknya pun ikut serta membantu dia ketika bekerja di sawah miliknya. Anak-anak yang jadi tumpuan keluarga.

Kadang saya memikirkannya, bukankah orang tuanya memiliki sawah dan setiap hari bekerja dan Roni ini juga punya kakak yang tentu saja bekerja, tapi kenapa sekolahnya cuma sampai SD. Apakah penghasilan orang tuanya selama ini tak cukup untuk membiayai dua orang anak di sekolah SD dan SMP? Entahlah, yang pasti dua anak yang mestinya sekolah dan menikmati masa kanak-kanak ini harus bekerja setiap hari.

Fenomena semacam ini di zaman sekarang di bumi Indonesia kalau dicermati sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa. Meski kalau mengacu pada prinsip-prinsip tertentu bermasalah. Tapi kasus anak-anak di bawah umur harus bekerja demi keluarga, atau orang tua mengeksploitir anak ternyata berlangsung marak bahkan pada segala lapisan masyarakat.

Di Jakarta banyak anak-anak tidak sekolah dan harus mengamen untuk membiayai hidup orang tuanya. Ini di masyarakat kelas bawah. Di tingkat atas banyak anak-anak yang jadi selebritis bekerja siang malam sampai meninggalkan bangku sekolah yang hasil kerjanya untuk senang-senang keluarga (orang tua). Belum lagi mereka ABG -ini tentu tingkat SMP- yang menjajakan diri pada om om senang. Dan masih banyak lagi, baik yang samar atau yang terang benderang dapat di kenali sebagai masalah.

Roni kelihatan senang-senang saja dengan hidupnya.  Semoga meski sekolahnya hanya manggul pacul tapi kelak ada hasil yang membuatnya mampu bertahan sebagai manusia. Daripada sekolah di gedung-gedung dengan biaya mahal tapi justru kehilangan kemanusiaan. Roni tidak merusak diri, dia justru menyenangkan orang tua dan keluarganya. Sementara kita, manusia sekarang sibuk merusak diri dan lingkungan, merasa berhak senang sendiri tapi kebingungan dalam banyak kesempatan.

Sekolah manggul pacul mungkin tak harus lenyap dari masyarakat sebagai ungkapan. Sekolah manggul pacul justru harus digalakkan bagi mereka yang tinggal di desa-desa. Mengingat negri yang mayoritas penduduknya petani ini sekarang seperti melupakan dunia yang memasok makanan harian ini.

Semoga Roni dengan Sekolah Manggul Paculnya bisa ikut menyukseskan Program SEO Positif. Hayo siapa mau ikutan posting bertema SMP.

13 komentar:

febriyanto mengatakan...

jadi inget jaman masa lalu ada istilah itu.... sekolah manggul pacul... LOL..... tapi kalo sekarang kebanyakan pada merantau ke kota, ga ada yg manggul pacul..... :))

John Terro mengatakan...

SMP = Senandung Masa Puber :D

Muhammad A Vip mengatakan...

hahaha

attayaya jadi anak smp mengatakan...

makasih atas pemberiutahuannya
langsung kudaftar

narti mengatakan...

kalau suasana di desa sama kali ya...seperti itu.
yg pasti dukung terus gerakan SEO positif ini.
sukses!

catatan kecilku mengatakan...

Lho.., baru tahu ada istilah Sekolah Manggul Pacul..
Kalau Selesai Makan Pulang sih udah biasa hehehe

the others.... mengatakan...

Semoga masih banyak blogger yg ikutan mendukung gerakan ini. Semoga manfaat....

Muhammad A Vip mengatakan...

SMP = Suka Makan Pisang. hahaha

Goyang Karawang mengatakan...

keren sob.. mari tetap semangat untuk membersihkan konten negatif di search engine

TUKANG CoLoNG mengatakan...

dulu saya gag manggul pacul pas SMP, tapi naek bemo..:)

Jiox mengatakan...

manggul pacul ada hub. dengan wakul ngglimpang kan mas? lagu dolanan waktu kecil.. gundul2 pacul, nyunggi wakul, wakul glimpang segane dadi sak latar.. he he..

Anonim mengatakan...

Useful info. Lucky me I discovered your website by chance, and I'm surprised why this accident didn't came about in advance! I bookmarked it.

Anonim mengatakan...

A phone card or calling card - a phone calling cards with a Personal Identification Code named also (pin) employed for a pre-chosen long distance retailer being absent from home or not at work.
Prepaid phone cards and monthly billed calling cards often offer aloud lower long distance rates (2 to 5 times) than the more traditional call services such as coin (landline), cellular (wireless) and collect calling. Needless to say cell phone cards calling rates stay regular no matter what time or day the call has been placed.