Minggu, 15 Juni 2014

Kacaunya Pekan Rakyat Monas




Sudah berlalu. Pekan Rakyat Monas 2014 atau PRJ Monas yang berlangsung dari tanggal 10 sampai 15 Juni 2014 itu syukur alhamdulillah hanya berlangsung enam hari. Saya bersyukur karena saat berlangsung suasana Monas benar-benar mencerminkan diri sebagai bangsa yang tak berbudaya. Manusia tumpah-ruah di sana, cuma karena orang-orang tidak kencing dan berak ramai-ramai sembarangan saja sehingga keadaannya masih bisa dimaklumi.


Mestinya acara-acara semacam ini yang rutin penyelenggaraannya benar-benar terkelola. Bahkan bukan saja dikelola sungguh-sungguh pengaturan ruangnya, tapi lebih dari itu sebagai sarana edukasi bagi warga. Tidak sekedar memberi kesempatan pada warga agar bisa berinteraksi dan menikmati hiburan, tapi secara bersamaan program-program pemberdayaan mental masyarakat dijalankan.

Melihat jalanan di sekitar kawasan Monas macet karena badan jalan dijadikan tempat parkir kendaraan, rumput taman rusak terinjak-injak, sampah berserakan di mana-mana, saya bisa  maklum karena masyarakat kita selama ini terbiarkan hidup anarkis. Tapi kita secara bersamaan selama ini sering mengeluhkan prilaku abai pada hukum itu, maka semestinya penyelenggaraan acara semacam ini dimanfaatkan untuk mengajari warga bagaimana mestinya hidup yang benar.

Maksud saya mengajari adalah tidak dengan himbauan, sebab kini kita sedang berada di masa jahiliyah, dimana orang-orang tampak berbudaya tapi sesungguhnya kebodohanlah yang tumbuh dan berkembang biak. Manusia bisa jadi berdandan rapi dengan pakaian modis bermerk, tapi stratanya tak jauh dari monyet yang telanjang bergelantungan di kebon binatang. Mengkhawatirkan jika tanpa kepedulian untuk memperbaikinya.

Aturan hukum sudah ada, aparat banyak, kalau kemudian situasi di lapangan tambah kacau untuk apa semua itu. Kita hidup seperti di alam rimba, seenak-enaknya. Ancaman-ancaman sanksi dari peraturan yang ada sudah seharusnya berupa pendidikan, denda yang hanya menimbulkan permainan uang harus dihilangkan. Sanksi kerja sosial yang membuat orang merasa dirugikan atau dipermalukan saya kira lebih mendidik, misalnya orang yang ketahuan membuang sampah sembarangan harus membersihkan sampah di sekitar dia membuang sampah itu dalam jarak yang ditentukan, jika menolak segala barang berharga yang dimiliknya pada saat itu disita petugas.


Mungkin akan tampak sulit jika hukuman model itu dipraktekkan di keramaian, tapi tentu saja tak harus semua pelanggar aturan dihukum, cukup mereka yang kelakuannya tertangkap kamera CCTV atau yang langsung terlihat petugas yang selalu keliling memantau keadaan. Satu dua orang dihukum, saya yakin afeknya akan terlihat.

3 komentar:

Abu Zaini mengatakan...

Berantakan di sana-sini jadinya...

Trims infonya...Salam kenal dari Pulau Dollar

Ario Antoko mengatakan...

katanya kedepan masuk monas bayar 5000 tujuannya untuk mengontrol biar ga tumplek bleg kayak situasi ditulisan

Muhammad Affip mengatakan...

Abu: berantakan sih enggak, cuma berontokan
Ario: dulu gak dipagar gak kacau balau begini, kini malah jadi alasan buat aturan baru. kenapa gak sekalian masuk jakarta bayar