Rabu, 28 Mei 2014

Maju dan Mundurnya Pegawai Negara Kita



Akhirnya mundur juga Menteri Agama setelah bertemu Presiden. Dan lewat berita saya membaca bahwa kepala negara sempat menghimbau menterinya itu agar mundur karena telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Saya yakin ini sesuatu yang berat, karena kalau saya berposisi sebagai Menteri Agama atau menteri apapun bahkan mungkin menduduki jabatan paling remeh temeh sekali pun perasaan enggan melepaskannya pasti luar biasa.


Saya di sini tidak akan membicarakan kasus korupsi yang jadi sebab mundurnya pejabat negara itu. Untuk apa, toh korupsi di Departemen Agama sudah jadi bahasan sejak lama. Terlebih korupsi sudah jadi laku harian yang merata yang tak cuma pejabat negara tingkat tinggi yang rendahan pun banyak sudah. Bagi saya kecil atau besar, bagaimana pun polanya, mengambil hak rakyat kebanyakan dengan batil adalah korupsi. Dan tak harus uang pula yang diambilnya kan?

Saya hanya ingin, sebagai warga negara yang tinggal di sebuah negara yang kondisinya sudah tak karuan, upaya memperbaikinya semestinya sudah membuang kebiasaan penuh basa-basi dan ewuh-pakewuh. Tentu saja saya tahu dalam hal ini, bahwa beratnya upaya penegakkan hukum karena hampir semua kita menyadari tangan dan tubuh kita kotor oleh lumpur dosa. Tapi siapa yang tidak pernah bersalah? Ah, klise pula, bahkan kesalahan kecil seperti lalai membuang bungkus permen sembarangan di tempat umum pun begitu sulitnya untuk mengakui apalagi melakukan pertobatan dengan memungutnya kembali dan membuangnya di tempat yang semestinya.

Maka bukan ingin juga kiranya, tapi mumpung akan ada pemimpin baru di negri ini, harus ada tuntutan agar penegakkan hukum jadi prioritas. Juga penting agar tak cuma tuduh-tangkap-penjara lalu selesai seperti yang berlangsung selama ini. Karena kenyatannya apa yang terjadi masih bisa dibilang sekedar main-main, beberapa tayangan di televisi memperlihatkan mereka yang jadi tahanan karena korupsi hidupnya asyik-asyik saja di penjara. Bahkan ketika keluar penjara mereka masih bisa membusungkan dada. Sampai saya kadang berandai-andai punya kesempatan korupsi lalu bisa mengantongi milyaran—tak usahlah triliyunan—lalu tertangkap dan dipenjara sepuluh tahun, rasanya tak ada masalah sama sekali. Saya masih bisa menikmati makanan kesukaan lewat kiriman, bisa kelonan sama istri yang kapanpun bisa datang, bisa nelpon dan pakai komputer, tidurnya pun di kamar yang tak kalah dari hotel dan sepuluh tahun itu waktu yang pendek.

Untuk kasus korupsi yang dilakukan pejabat negara, tuntutan saya adalah agar ketika ada pejabat negara diduga terlibat korupsi atau menyalahgunakan jabatannya, dia harus dinonaktifkan. Harus ada aturan yang jelas tentang ini, jadi tak ada polemik harus bagaimana pegawai negara ini. Lalu ketika ada bukti dan jadi tersangka, secara otomatis pula diberhentikan dari jabatannya dan aset milik pribadinya diawasi oleh negara, kemudian setelah melewati sidang dan terbukti, ketika palu hukuman diketuk saat itu pula seluruh hartanya disita untuk negara. Bukan cuma uang hasil korupsinya yang disita, tapi karena dia adalah ingon-ingon negara maka apa yang ada pada dirinya adalah milik negara, dan karena telah berkhianat pada negara maka itu adalah resiko yang wajar.

Jadi saya berharap ketegasan aturan: berhenti menjabat saat itu juga karena bermasalah, kalau tidak mau berhenti maka sanksi hukumnya akan ditambah. Lalu bagaimana kalau ternyata tidak terbukti bersalah, yang pasti aturan sudah dilewati dan sebagai pribadi yang punya kemampuan di suatu bidang pasti tak akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan baru. Tak perlu ada pembersihan nama baik, maksudnya mereka para pejabat negara harus sudah menyadari sejak awal tentang adanya kemungkinan semacam itu yang sewaktu-waktu bisa saja menimpanya.

Sekarang menjadi pegawai negeri sedang jadi primadona, gaji besar sedangkan kerja bisa asal-asalan dengan jam kerja yang bisa dibilang pendek (kebetulan keluarga saya umumnya pegawai negeri dan saya juga dulu sering disuruh jadi pegawai negeri). Maka tak aneh ada orang sampai demo dan merusak taman hanya karena ingin diangkat jadi pegawai negeri. Banyak yang sampai setor puluhan bahkan ratusan juta agar bisa jadi pegawai negri pula. Saya ingat ada seorang anak muda lulusan universitas negeri ternama di Yogyakarta yang ditawari menjadi pegawai pemda DKI dengan cukup menyetor 40an juta, awalnya dia ingin cari kerja sendiri dengan melamar kesana-kemari, waktu itu saya merasa senang punya kenalan yang punya prinsip. Sayangnya cari kerja sendiri kudu sabar dan dia merasa harus membantu biaya sekolah adik-adiknya, sehingga godaan ingin cepet kerja membuatnya menuruti arus di keluarganya dan dia akhirnya jadi pegawai pemda DKI, padahal ibunya guru agama di sebuah SMU negeri. Dan jadi pegawai negeri memang hebat, cuma setahun lebih kerja dia sudah bisa beli mobil walau bukan mobil baru, entah seperti apa keadaannya kini karena semenjak tahu dia punya mobil saya tak pernah lagi singgah di rumahnya.

Saya tidak menuduh kawan itu korupsi atau menjadi pegawai negeri itu bermasalah. Saya hanya gelisah menyaksikan anggota keluarga saya yang pegawai negeri, mereka bisa seenaknya pergi kerja atau tidak, lalu bisa pergi kerja jam berapa saja. Juga ketika mendatangi instansi-instansi pemerintah, yang ada hanya sekumpulan orang yang sepertinya tidak punya pekerjaan. Di masjid-masjidnya saat jam kerja ada saja pegawai yang duduk wiridan kalau sendirian atau ngobrol masalah agama kalau berdua atau bertiga, atau mengundang ustad dan mengadakan pengajian tak bermutu, yang itu pada jam kerja. Ya kalau negara kondisinya bagus, sementara dengan utang negara membeludak, fasilitas publik tak memadai, segala yang tampak di mata saya itu jelas merupakan masalah serius.

Sudah saatnya definisi korupsi dibikin jelas dan gamblang. Hukum ditegakkan dengan tegas. Hukuman bagi aparat negara harus dilebihkan dari hukuman pada warga biasa. Saya kira ini bukan pilihan untuk saat ini, tapi suatu keharusan jika ingin negara dan bangsa membaik kondisinya.




4 komentar:

agen suplemen kesehatan dan kecantikan mengatakan...

menarik sekali mas artikelnya, saya jadi bisa belajar dikit-dikit soal politik..

Joogja Circles mengatakan...

Hmmm... Rumit juga ya. Setiap orang pasti ingin hidupnya sejahtera. Hanya caranya yang berbeda-beda. Ada yang positif ada yang negatif. Itulah hidup. Susah juga ya hidup di dunia. Entah esok dimasukkan ke surga atau neraka... Ah entahlah....

Nandar mengatakan...

Sekarang gaji pegawai negeri sudah lumayan besar dan katanya APBN negara banyak dihabiskan untuk gaji saja..

Muhammad Affip mengatakan...

agen supelmen: terimakasih
Jogja Circles: hahaha... semoga saja ada diantara kita yang masuk sorga
Nandar: APBN konon jebol karena soal ini, beberapa waktu lalu ada anjuran pensiun dini untuk PNS, konyol juga aturannya