Minggu, 05 September 2010

Nasionalisme Anak SMP

Selama Romadlon ada aktifitas anak SMP yang belakangan sangat serius saya perhatikan. Aktifitas malam tentunya, karena anak-anak selepas berbuka puasa biasanya jadi sangat aktif bahkan menjadi hiperaktif. Aktifitas ini awal mulanya karena terkesan wajar saya perhatikan sepintas lalu, tapi lama-lama  berasa penting untuk dicermati. Mohon jangan salah sangka dulu, ini bukan meningkatnya gairah berkumpul di masjid atau semangat sholat taraweh duapuluh tiga rokaat dengan gerakan yang super cepat, ini soal tawuran.


Tawuran? Ya, anak-anak kecil yang baru SMP dan banyak juga yang masih SD itu setiap malam selalu menyelenggarakan acara tawuran. Setelah sholat Isya bisanya mereka pada bergerombol di jalanan tentunya masih mengenakan sarung. Kelompok-kelompok itu biasanya saling sambit pakai batu atau menggunakan sarung yang diplintir membentuk cambuk untuk saling gebuk.

Awalnya mungkin bercanda atau apa, tapi belakangan jadi mengkhawatirkan. Mereka mulai menggunakan cambuk kawat, gir atau potongan besi yang diikat di ujung tali, pentungan dan benda-benda berbahaya. Korban pun berjatuhan, ada yang harus dijahit karena kepalanya bocor atau sekedar benjut-benjut. Orang tua mulai marah-marah dan polisi pun mulai terlibat.

Lalu apa hubungannya aksi brutal itu dengan nasionalisme? Nasionalisme kan kata kuncinya kebersamaan, sekelompok manusia berurusan dengan kedaulatan dan negara. dan anak-anak itu yang tinggal di kawasan yang tidak jelas statusnya ini -sebuah negara atau hutan belantara- dengan kelompoknya sepertinya berupaya menunjukkan kepada siapa saja bahwa kelompok mereka berdaulat. Mereka kemudian unjuk kekuatan semampu mereka agar diperhitungkan sebagai kelompok. 

Tak perlu berlebihan tentu menilai nasionalisme jenis ini. Namanya juga Nasionalisme Anak SMP, jadi nasionalisme yang baru tumbuh. Tapi pembenaran mereka atas persamaan status sosial sebagai anak-anak yang mulai berdaya kan sebenarnya tidak beda dengan nasionalisme pada umumnya yang mendasarkan pada etnis, budaya, agama atau negara. 

Dan yang perlu diseriusi menurut saya adalah bahwa sifat kekelompokan yang harus ditunjukkan dengan aksi fisik ini meresahkan. Karena kita sebagai orang tua terkena akibat langsung atau tidak langsungnya. Saya yang sering pulang malam harus takut kena lemparan batu atau sabetan cambuk, inikan masalah serius. Mereka juga ketika dilerai atau dihalau agar berhenti seperti tak mendengar apa-apa. Tengah malam ketika harus tidur dijalanan banyak orang tua ribut membahas anak-anak mereka yang tawuran juga mengganggu mereka yang mau beristirahat.


Aksi seperti ini ternyata juga meluas di beberapa tempat di Jakarta. Ini serius dan mengkhawatirkan tentu saja, tapi ternyata kalau melihat bahwa orang tua-orang tua kita juga banyak yang bersikap seperti anak-anak itu ada dorongan untuk memaklumi. Lha mereka masih SMP, sedang belajar nasionalisme, bukannya yang tua-tua juga dibiarkan? Apalagi ekspresi keberanian anak-anak itukan bisa positif, jadi kalau negara asing suatu saat nanti menyerang kita mereka tidak akan lari.

8 komentar:

TUKANG CoLoNG mengatakan...

masa ampe tawuran gitu pak? waduh!

Muhammad A Vip mengatakan...

huuu...seru

John Terro mengatakan...

Nasional.is.Me
Nasionalisme apa harus dilakukan seperti itu kang?
apa tidak malah salah arah?

Muhammad A Vip mengatakan...

ya, anak smp gitu lho

Anak SMP kota dan Desa mengatakan...

anak smp saya nggak gitu lo mas , semuanya pada suka FB dan berteman kemana-mana

John Terro mengatakan...

hahah ... Anak SMP suka FB-an? anak SD aja juga suka :D

penghuni60 mengatakan...

gak yg kecil gak yg gede, udh bosen sob dgr kata "tawuran"...

apa sih untungnya????
mungkin mreka pengen ngrasain kali ya, gimana rasanya berperang...?

harusnya mreka sadar, harusnya mreka lbh menghargai jasa2 para pahlawan dulu.. bukannya malah mengisi kemerdekaan dgn hal2 yg sia2. kalo saja aku yg jd pahlawan yg gugur dijaman perang kemerdekaan dulu, mungkin arwahku akan menghantui mreka sob..

Muhammad A Vip mengatakan...

hihihi