Minggu, 02 November 2014

Aku, Dokter dan Bupati Enthus

Dokter punya banyak cara, dan pasti Tuhan juga. Cuma pasti Tuhan punya lebih banyak karena Dia tahu segalanya. Tuhan juga tidak terhingga motifnya dalam bekerja, sehingga tidak remeh temeh cara-cara-Nya. Dokter? Seberapa hebat reputasinya dan seberapa banyak manusia yang berharap pada pertolongannya, apabila dalam bekerjanya hanya uang motifnya, bagaimanapun canggih cara kerjanya tetap saja bisa direken. Dokter bisa saja mengaku bekerja demi kemanusiaan, tapi tetap saja kebohongan bisa dikenali.


Seperti di berita ini: tanggal 30/10/2014 lalu Bupati Tegal Ki Dalang Enthus melakukan sidak ke RSUD Dr. Soesilo Slawi dan mendapati banyak pasien menunggu, yang ternyata si dokter belum datang padahal sudah hampir jam sepuluh siang. Jelas sekali si dokter punya banyak cara untuk hidup, pada jam kerja masih belum datang ke kantor pasti ada duit di tempat lain. Maka Pak Bupati pun mendatangi rumah si dokter yang ternyata pada pukul sepuluh memang masih terima pasien di rumah. Karena merasa punya banyak cara, mengetahui ada bupati sedang menunggu di ruang tunggu pasien si dokter langsung nylintis meninggalkan rumah lewat pintu lain. Tapi Tuhan Maha Tahu dan Maha Kuasa, diperintahkanlah Pak Bupati datang lagi ke RSUD, dan si dokter langsung didamprat sampai mukanya raup idu.

Lewat berita itu saya merasa Tuhan dengan caranya telah membuat seorang hamba (mungkin lebih)  yang dadanya sesak oleh segala peristiwa yang berlangsung di Gedung DPR menjadi tersenyum lega. Seorang hamba yang sering kecewa, seorang hamba yang masih bengong bertanya-tanya apa alasan Presiden Jokowi memilih Puan Maharani jadi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Dan seorang hamba itu siapa lagi kalau bukan aku.

Ada dokter dimaki-maki senang? Ya, karena pengalamanku dengan dokter sejauh ini lebih banyak kecewanya daripada puasnya. Bude-ku dulu pergi dalam keadaan baik-baik ke dokter, pulang ke rumah setelah minum obat justru linglung dan tidur terus lalu meninggal. Bapakku datang ke RSUD Slawi bisa jalan, setelah diini-itu langsung nggletak beberapa hari tanpa kejelasan di mana dokternya dan meninggal. Aku pun setiap kali (dengan terpaksa) datang ke dokter, hanya dapat obat tanpa kejelasan tentang penyakit, dan kalau nekat tanya ini itu biasanya si dokter belagak sibuk (aku menduga dia tak tahu apa-apa selain jualan obat).

Dokter adalah salah satu profesi dari sekian banyak profesi yang dianggap istimewa di negri ini. Sosoknya selalu dihormati, mungkin karena dianggap mampu membuat orang sakit menjadi sehat dan selalu saja orang-orang gampang merasa sakit daripada merasa sehat. Tapi bagiku dokter tidak istimewa, maka ketika ada dokter dimaki-maki di tempat umum di depan orang banyak, sangat melegakan karena warga bisa sadar bahwa dokter juga manusia, manusia yang sangat mungkin dalam bekerja tujuannya hanya untuk mendapat uang. Harapanku pasien bisa lebih berani nantinya dalam menuntut hak, daripada sekedar nurut dijejali obat dan tampang berwibawa.

Bupati Enthus juga pastinya dapat banyak pujian dari aksinya, sebagaimana Ibu Risma (Walikota Surabaya)  dan Mas Ganjar (Gubernur Jawa Tengah) marah-marah di layar televisi beberapa waktu lalu. Tapi apa artinya marah-marah di tempat umum kalau kemudian cuma sekedar itu. Membayangkan diri jadi pimpinan yang memaki-maki bawahan, terpikir jangan-jangan setelah selesai memaki-maki dan pergi justru jadi bahan tertawaan oleh dia yang baru dimaki-maki bersama kawan-kawannya.

Ah, sudahlah. Sekarang memasuki era Indonesia Baru bersama presiden baru, semoga saja nanti ada banyak hal baru yang bisa membuat kita terharu.



2 komentar:

Ave Ry mengatakan...

Waduh, top banget tulisannya! Kenapa? karena saya pernah mengalami hal yang sama, kecewa pada 'ahli medis'. Dokter sudah seperti Tuhan saja tidak boleh di ganggu gugat. Apa katanya mesti benar, mungkin itu yang membuat mereka jumawa.... memang patut ditiru si bapak Bupati itu, agar jangan semena-mena dalam dedikasinya ^_^b

Muhammad Affip mengatakan...

banyak yang mengalami kekecewaan dalam hal pelayanan kesehataan di negri ini, maka tak aneh dukun lebih laku