Selasa, 12 Juli 2011

Kecurangan di Loket Stasiun Masih Ada

Pagi ini saat di loket setasiun kereta Pasar Minggu sekali lagi saya menyaksikan persoalan yang katanya telah diatasi. Yaitu kecurangan penjaga loket yang sering menyerahkan uang kembalian dengan cara dicicil yang sering berakibat uang kembalian tak terambil semua. Sudah lama hal ini dikeluhkan dan kini menurut berita telah diatasi dengan menampilkan nama penjaga loket agar bisa diadukan jika kedapatan masih berbuat curang, tapi nyatanya di Stasiun Pasar Minggu tak tampak itu nama penjaga loket. Bahkan tadi pagi masih ada kecurangan itu, meski akhirnya kembalian itu diserahkan juga karena saya memperhatikan peristiwa itu.


Ceritanya pembeli tiket sadar kalau uang kembaliannya kurang, tapi entah karena malu atau tak berani untuk memintanya sehingga dia hanya bolak-balik di depan loket dan dibiarkan oleh petugas loket. Saya yang baru datang di loket melihat gelagat itu langsung tahu yang terjadi, maka saya melihat ke arah petugas loket dan sempat ingin berbicara, tapi petugas itu keburu memanggil pembeli tiket bingung itu yang sudah  ambil melangkah pergi meninggalkan loket. 

Kadang di tempat umum yang ramai ada orang yang malu meminta uang kembalian yang nilainya dianggap kecil. Padahal setelahnya biasanya menggerutu bahkan tak jarang menyumpah-serapah. Hal semacam  ini sudah sering  saya saksikan di Jakarta, karena tak hanya petugas di loket stasiun,  kondektur/ kenek  bis kota atau pelayan warung juga sering melakukan hal semacam ini. Meskipun ketika diminta diberikan juga, tapi banyaknya orang yang belagak gengsi dengan pura-pura ikhlas yang membuat aksi kejahatan semacam ini kian banyak yang menirunya.

Mestinya untuk kasus di setasiun kereta, jika benar masalah ini diatasi, di jendela loket dipasang pengumuman dengan huruf besar agar mudah dibaca konsumen yang rata-rata matanya tidak awas. Tulis dengan bahasa singkat: PERIKSA KEMBALIAN SEBELUM MENINGGALKAN LOKET, misalnya. Atau tambahi dengan: ADUKAN PETUGAS YANG MENGURANGI KEMBALIAN DI NOMOR 021XXXXXX. Sebab kalau harus mencari-cari siapa nama petugasnya akan repot. Bahkan jika nama itu disematkan di bagian dada pun dengan huruf yang kecil tak mungkin semua orang bisa dengan mudah membacanya. Jadi penting  mengumumkan nomor pengaduan di peron agar penumpang mudah mendapatinya.

Ini kelihatannya masalah sepele, karena uang lima ratus rupiah atau seribu rupiah hampir tidak ada harganya di Jakarta, tapi seseorang yang sering merasa dicuri uangnya oleh orang lain walau jumlahnya tak seberapa sangat mungkin pada suatu saat akan membalas kepada orang lain dengan cara yang sama untuk jumlah yang besar. Saya pikir ini benih korupsi yang lama telah tersebar di masyarakat kita, sehingga hampir semua orang di negri ini seakan-akan perlu diwaspadai dan kita saling curiga bahkan dengan saudara sendiri. Dan memang pada kenyataannya hidup kita saat ini benar-benar tak aman di segala tempat bahkan di rumah ibadah sekalipun atau di rumah sendiri.

5 komentar:

nita mengatakan...

Iya setuju banget tuh mas, memang harus ditindak hal2 spt itu spy tertib dan ndak merajalela. aku juga pernah kejadian yang sama dengan tukang bajaj.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kayaknya dimana mana banyak orang korupsi deh.

Muhammad A Vip mengatakan...

nita: pokoknya polisi harus turun tangan, jangan hormat terus.

Goyang Karawang mengatakan...

jadi saling membalas inilah yang bahaya ya pak bos

Muhammad A Vip mengatakan...

Goyang Karawang:iyo kiranyo