Kamis, 14 Oktober 2010

PANCASILET BUKAN PANCASILA

"Pancasilet...satu...pancasilet..." kata-kata itu seperti tak mau pergi dari ingatanku. Dari kemarin terus kepikiran pada suara anak-anak SD (Sekolah Dasar) yang terus mengucapkan itu semua ketika bolak-balik depan rumah. Sepertinya lumrah memang, anak-anak memelesetkan istilah-istilah, sesuatu yang bisa jadi membuktikan tumbuhnya kreatifitas. Tapi entah mengapa aku malah serius memikirkannya, seakan ada sesuatu yang penting pada hal itu.


Salah satu hal yang membuatku tak bisa lupa dengan PANCASILET tadi sepertinya karena dulu sewaktu SD ada peristiwa lucu  yang masih ada sangkut pautnya dengan hal ini. Yaitu ketika teman sekelasku yang bernama Par diminta Pak Guru maju ke depan agar melafalkan PANCASILA. Sesampai di depan teman saya ini langsung berucap, "Satu...Pancasila...dua..." Karena kemudian kebingungan dia yang clingak-clinguk langsung diserbu tawa teman-teman sekelas. Begitu terus bolak-balik sampai tiga kali sampai akhirnya si Par ini kembali ke tempat duduk. Padahal Pak Guru sudah membimbingnya agar menyebut kata PANCASILA dulu baru menyusul kata satu dan seterusnya.

Soal tidak hafalnya teman SD saya itu dulu tak dianggap begitu penting rasanya. Kalaupun jadi bahan obrolan sekedar untuk lucu-lucuan. Tapi ketika belakangan saya menyaksikan di layar televisi banyak remaja bahkan yang berstatus mahasiswa tak mampu menyebutkan sila-sila dari Pancasila ketika diminta menyebutkan dalam sebuah reportase, saya merasa ada sesuatu yang layak jadi renungan. Bahkan ada anggota TNI yang juga tak hafal pancasila. Ini mungkin sebabnya kenapa saya kepikiran terus dengan PANCASILET.

Pancasila konon adalah nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa Indonesia. Kelima sila yang ada di dalamnya dirumuskan oleh para pendiri bangsa agar jadi pegangan sebagai modal hidup bersama dalam negara. Maka setiap warga negara wajib memahami dan menghayatinya. Dan untuk sampai di situ tentu harus hafal seluruh silanya dan mampu menyebutkan secara berurutan. 

Kini kenyataan telah menunjukan sesuatu yang semestinya itu seakan cuma pengandaian. Anak-anak sekolah tak hafal, aparat negara tak acuh bahkan perlu dicurigai jangan-jangan presiden pun sama saja. Lalu muncul plesetannya PANCASILET, sesuatu yang terdengar seram dan membuat bergidig. Bayangkan saja benda bernama silet, saya selalu ngeri mengingat benda itu. Teringat wajah jendral berdarah disayat anggota Gerwani dalam film G 30 S/PKI.

Pancasila yang telah diplesetkan itu kalau dicermati memang sedang berada pada masa suram. Tak hanya diremehkan dengan tak lagi dihafal oleh anak-anak, bahkan banyak yang meremehkannya. Banyak teman-teman yang menganggap Pancasila bermasalah. Ada yang menulis status di facebook beberapa hari lalu: Pancasila tidak diamalkan saja bikin negara rusak apalagi kalau diamalkan. Terlebih konon ada yang ingin mengganti Pancasila ini dengan idiologi lain.

Kalau yang muda sudah tidak peduli dengan Pancasila, lalu anak-anak memelesetkannya, rasanya ngeri melihat masa depan negri ini. Ketidakadilan di mana-mana; koruptor dihukum lima bulan, pembantu rumah tangga mengambil bahan sop buntut dituntut lima tahun penjara. Orang-orang membawa senjata tajam beramai-ramai di depan aparat dan melakukan pembunuhan tanpa bisa dicegah. Kiranya apa yang bisa menyelamatkan negri ini dari kehancuran, kalau nilai-nilai luhur yang menjadi modal hidup bersama telah dianggap tidak berarti lagi.


10 komentar:

John Terro mengatakan...

hhahah .. PANCASILET? apa ga lebih bagus PANCASONA jurus salah satu tokoh di film mak lampir :D

Muhammad A Vip mengatakan...

ada yang bilang kenapa tidak pancacinta?

fanny mengatakan...

bisa aja melesetinnya

fanny mengatakan...

bisa aja melesetinnya

John Terro mengatakan...

wekekek ... mending PANCASILAU ... :D

Muhammad A Vip mengatakan...

Fanny:anak2 memang kreatif
John:wah, mata bisa belekan

the others.... mengatakan...

Memang sepertinya saat ini Pancasila sudah mulai 'dilupakan' oleh bangsa ini.

Her Long and Winding Road mengatakan...

gue lebih seneng pancaroba ....

penghuni60 mengatakan...

ada kok lebih baik sob,nih:
"PANCAran matamu menarik hati"
hehe.. :)

dijaman yg skrg ini sepertinya udh gak ada yg namanya pengamalan Pancasila..
bahkan norma2 agamapun udh byk yg dilanggar...

mau jd apa manusia didunia ini???

Muhammad A Vip mengatakan...

pancaran matamu? waduh!