Minggu, 01 Agustus 2010

Tentang Ibu yang Membunuh Bayinya

Menggoreng nasi kemudian memakannya panas-panas tadi pagi memang nikmat sekali. Nasi goreng yang dicampur-campur itu kumasukan terus tanpa peduli kalau akan melukai mulutku karena panasnya. Mungkin itu sebabnya kenapa ketika mendengar kabar dari radio tentang seorang ibu yang membunuh anak bayinya yang baru dilahirkannya dua minggu lalu perasaanku biasa-biasa saja.

Penyiar radio, seorang perempuan yang tentu saja banyak omong itu berkomentar banyak tentang kasus yang terjadi minggu siang kemarin. Tentang kenapa harus begitu, kenapa tidak begini saja dan segala macam pernyataan yang mungkin sudah jadi keharusan bagi seorang pembawa acara. Keharusan yang kadang menggangu itu sebenarnya sama mengganggunya dengan tindakan seorang ibu yang bernama Sunari yang telah membunuh bayinya tadi. Mengganggu dan sejenak kemudian terlupakan karena peristiwa semacam itu telah sedemikian lumrah di masyarakat.

Beberapa tahun lalu juga terjadi seorang ibu membunuh anak kandungnya sekaligus tiga yang salah satunya juga masih bayi. Kejadian di Bandung yang juga menghebohkan dan memunculkan banyak pernyataan mengganggu itu pun sebentar sudah terlupakan. Sumanti, perempuan tunawisma di Depok yang ketahuan memakan bayinya sendiri tiga tahun lalu juga hanya sejenak jadi berita heboh dan tidak pernah jadi kajian serius di ruang-ruang keilmuan atau yang sejenisnya. Para ustad yang rajin berceramah tentang keharusan-keharusan dalam bertingkah laku pun seakan tak terdengar bahasannya mengenai kasus-kasus itu. Di forum-forum atau di televisi para tokoh bangsa lebih senang bicara hal-hal besar yang sulit dinalar daripada mencoba membantu memecahkan problem akut yang kini dililit oleh masyarakat awam.

Produk Masyarakat
Seorang ibu sampai tega membunuh anak kandungnya tentu saja sebuah fenomena yang sangat luar biasa. Membuang barang yang mendapatkannya dengan cara yang mudah saja sulit apalagi membuang bayi yang untuk memilikinya diperlukan pengorbanan berat. Tapi kenapa hal itu sampai terjadi pasti ada latar belakang yang begitu kuat desakannya sehingga hal-hal yang hampir mustahil itu dapat terjadi.

Kalau dicermati gaya hidup masyarakat sekarang ini sudah melampaui apa yang sering di sebut "lu lu gue gue". Hidup kita sudah pada tahap "siapa lu, ini gue". Kalau pada ungkapan pertama orang sibuk mengurus diri sendiri demi kesejahteraan dirinya, untuk yang ke dua orang sudah tidak  sekedar mengurus diri sendiri lagi melainkan mengamati juga orang lain tapi diposisikan sebagai ancaman.

Orang masih bergaul satu sama lain tapi lamis. Selama masih ada keuntungan di dalamnya segala ekspresi buruk akan diredam, tapi ketika harapan sudah tidak ada saudara kandung pun bisa seperti bukan siapa-siapa.

Orang-orang berduit banyak membangun rumah berkelompok sesama mereka dengan sistim komplek yang dibentengi sedemikian rupa dengan penjaga yang siap mengusir siapapun yang tidak pantas masuk ke sana. Mobil-mobil mereka melaju kencang di jalanan seakan tak ingin membiarkan siapapun melintas di depan mereka. Orang miskin masih mungkin berhubungan dengan mereka, tapi tak mungkin duduk sejajar. Manusia bergaul seakan dengan membawa belati di punggung mereka yang pada suatu kesempatan siap melukai. Kata maaf diobral tapi perasaan disingkirkan sejauh-jauhnya.

Maka keputusasaan merajalela, menyelusup ke dada yang sempit dan menjangkit menjadi penyakit yang rumit. Gerak manusia masih berkesan saling mempengaruhi, tapi sesungguhnya hantu besar itulah pemicunya.  Tubuh manusia berjalan dipenuhi aksesoris tak bermakna. Barang-barang tidak berguna bertumpukan di rumah siapa saja. Sampah menumpuk tidak terkelola.

Sunari, ibu dari tiga orang anak dan istri seorang penjual lontong sayur yang hidup wajar di tengah masyarakatnya itu tiba-tiba membunuh bayinya. Ia adalah produk dari segala yang berlangsung saat ini di tengah-tengah kita. Mungkin saja ketika dia melakukannya dalam keadaan sadar dan dengan sengaja, tapi pasti kesadaran dan kesengajaannya tidak lepas dari kesadaran dan kesengajaan yang hidup di masyarakatnya. Kesadaran yang terengah-engah karena menggendong gundukan tipu daya dan kesengajaan yang melompat-lompat karena pijakannya tidak jelas.

Ibu Sunari, juga ibu lain yang telah melakukan hal serupa telah menutup jalan bagi anak mereka menikmati kejamnya prilaku manusia. Sementara begitu banyak ibu-ibu lain membunuh anak mereka sedemikian rupa dan membiarkan anak-anak itu tetap hidup dan menderita didera segala macam problema.

Memikirkan semua ini, saya jadi ingat film-film tentang zombi. Orang-orang yang hakikatnya mati itu, tetap bergentayangan untuk menerkam dan melukai.

4 komentar:

Fajar mengatakan...

sing penting untung om...itu hidup orang sekarang....ketika ada kepentingan disitulah pasti akan baik-baik saja

Sang Fajar mengatakan...

thanks telah berkunjung mas....

Muhammad A Vip mengatakan...

sip lah!

John Terro mengatakan...

harimau tak kan membunuh anaknya
tapi ibu?